Alarm Gunung Raung Tak Sebagus Merapi, Warga Pakai Kentungan

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Selasa, 21/07/2015 08:54 WIB
Alarm Gunung Raung Tak Sebagus Merapi, Warga Pakai Kentungan Gunung Raung mengeluarkan lava pijar dan asap vulkanik terlihat dari Desa Sumber Arum, Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu malam (11/7). (ANTARA/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kesiapan infrastruktur pengamanan evakuasi di Gunung Raung, Jawa Timur, jauh berbeda jika dibandingkan dengan Gunung Merapi di Yogyakarta-Jawa Tengah yang pernah meletus dan menyemburkan awan panas pada 2010. Hal itu dikatakan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Saat peristiwa meletusnya Gunung Merapi, kata Khofifah, hampir di setiap lokasi permukiman penduduk di kaki pegunungan disediakan sebuah tiang bertombol. Jika tombol itu ditekan, maka seluruh tiang bertombol di tempat lainnya di pegunungan itu akan turut mengeluarkan suara peringatan dini atau early warning system.

Peringatan dini itu sangat membantu proses dan kesigapan pengevakuasian penduduk. Sayangnya infrastruktur tersebut belum ada di lokasi permukiman penduduk sekitar Gunung Raung.


"Di Raung, terutama wilayah Bondowoso yang dekat dengan gunung, sistem alarmnya jauh. Pusat vulkanologi ada di Banyuwangi. Jadi mereka mengandalkan kitir atau kentungan," ujar Khofifah.

Dengan demikian, warga di sekitar Gunung Raung harus amat sigap tiap kali mendengar kentungan tradisional mereka berbunyi sebagai alarm peringatan dini. Kapan pun warga mesti siap jika tiba-tiba harus dievakuasi.

"Mereka harus sigap. Ujung mobil harus sudah mengarah ke jalan. Bahan bakarnya jangan sampai kehabisan. Itu yang harus diperhatikan oleh warga jika mendengar suara kentungan. Artinya harus segera melakukan evakuasi," ujar Khofifah.

Meski belum ada warga di sekitar Raung yang mengungsi, pemerintah telah menyiapkan lokasi evakuasi dan tempat pengungsian. Gunung Raung saat ini masih berstatus dalam pantauan meski sesekali menyemburkan asap dan abu vulkanik hingga ke Surabaya dan Bali. Akibat erupsi tersebut, Bandara Juanda di Surabaya dan Bandara Ngurah Rai di Denpasar telah berkali-kali ditutup dan sejumlah penerbangan dibatalkan atau ditunda. (sip)