Liputan Khusus

Jatigede dan Tanda Tanya Tak Kunjung Sirna

Hafizd Mukti Ahmad, CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2015 13:36 WIB
Jatigede dan Tanda Tanya Tak Kunjung Sirna Proyek Bendungan Jatigede, Sumedang, akan menenggelamkan 28 desa di wilayah Sumedang dan akan mengairi 90 ribu hektar lahan pertanian dengan pembangkit listrik mencapai 110 MW. (CNN Indonesia/Hafizd Mukti Ahmad)
Sumedang, CNN Indonesia -- Malam kian pekat kala Rahmat, warga Desa Sukaratu, Kecamatan Darmaraja, Sumedang berjalan mendekat. Selepas ibadah tarawih, pada medio ramadan lalu, lelaki berusia 65 tahun itu mendatangi CNN Indonesia yang sedang sengaja menginap di kawasan terdampak proyek bendungan Jatigede.

Sesaat tiba, Rahmat yang berkopiah putih, langsung menyambar bangku plastik nganggur. Tanpa komando ia pun lantas bercerita. Keluh kesah yang ia simpan selama puluhan tahun soal tanah lahirnya yang tak lama lagi bakal tenggelam. 
Kawasan Bendungan Jatigede, Sumedang, rencananya akan segera beroperasi 1 Agustus 2015. (CNN Indonesia/Hafizd Mukti Ahmad)


Bagi Rahmat, kisah Jatigede merupakan cerita soal separuh umurnya. Sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama atau sederajat kala itu hingga hari ini, obrolan soal bendungan dan penenggelaman sudah layaknya santapan. Namun ia baru mengerti dan terjun terus mendalami persoalan saat era menginjak 80-an.


Menurut Rahmat kondisi saat ia melek perkara Jatigede, politik masih dikuasai Orde Baru pimpinan Soeharto. Alhasil saat itu nyaris tak ada tawar menawar untuk pembebasan lahan seluas 4.983 hektar atau lebih dari setengah luas Waduk Jatiluhur -waduk terbesar di Indonesia dengan luasannya 8.300 hektar. (Baca juga: Jatigede: Cerita Panjang Persoalan Pembebasan Lahan)

“Kala itu, tak ada proses tawar menawar. Tanah di wilayahnya dihargai Rp 6 ribu/meter untuk sawah dan Rp 9 ribu untuk tanah daratan,” katanya.

Tahun itu kan Rahmat yang sudah beranjak dewasa turut serta mengakomodir harga. “Kalau nawar ya siap-siap saja berhadapan dengan Kodim setempat,” katanya santai saembari menghisap dalam tembakau kereteknya.

Rahmat merupakan generasi pertama yang menyaksikan secara gamblang proses pembangunan Jatigede sejak era Soekarno. Termasuk pada era Soeharto yang menurutnya menjadi awal mula permasalahan terjadi.

Gejolak politik, kata Rahmat menjadikan warga Jatigede tak bisa berbuat apa-apa, termasuk ia dan generasi satu angkatannya yang kini sebagian telah meninggal. Hingga hari ini warga sekitar area terdampak tak kunjung melihat Jatigede akan digenangi, bahkan waktu yang terus mundur membuatnya seakan yakin Jatigede hanya akan menjadi monumen. (Baca juga: Warga Bertahan di Desa yang Bakal Tenggelam oleh Jatigede)

“Warga sini, selama puluhan tahun digantung, mau digenangi tapi tak jadi-jadi. Sampai kembali beranak pinak, berturun bergenerasi masalah jadi semakin banyak.”

Sukaratu tempat CNN Indonesia berbincang dengan Rahmat memang bukan area yang terdampak secara keseluruhan. Namun sebagian lahan sawah Rahmat akan ikut tenggelam.

Bendungan ini sudah lebih dari 30 tahun tidak jadi, saya doakan tidak akan pernah jadiAbah Rahmat, perangkat Desa Sukaratu, Kecamatan Darmaraja, Sumedang. 
Menurut Rahmat, selepas pembebasan lahan yang dilakukan pada era 80-an, terjadi pembiaran hingga tahun 1996. Persoalan ini membuat warga yang telah mendapatkan penggantian berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 tentang Tata Cara Pembebasan Lahan pun tak kunjung pindah, lantaran tidak ada tindak lanjut riil di lapangan.

Nampaknya dari waktu itu kemudian awal mula permainan dilakukan, selepas 1996 terhenti oleh gelombang reformasi, warga pun tak ada yang kunjung pindah meski telah diberikan ganti rugi. Bahkan, dengan aturan yang ada lewat Peraturan Bupati Sumedang Nomor 520 tahun 2006, kemungkinan mereka yang telah mendapatkan ganti rugi akan kembali mendapatkan uang ‘kaget’. (Baca juga: Warga Bertahan di Desa yang Bakal Tenggelam oleh Jatigede)

“Kalau ingin waduk ini ditutup, pemerintah sebenarnya tingga tutup saja, rakyat itu sebenarnya harus nurut pemerintah tapi kalau pemerintah tidak tegas, kusut jadinya. Generasi saya sebenarnya sudah banyak yang meninggal, tapi karena ini tidak kunjung selesai, maka banyak turunannya yang tidak tahu masalah ikut meributkan,” ujar Rahmat.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo memberikan tengat waktu 1 Agustus tahun ini, yang artinya tinggal beberapa hari lagi, pintu air Waduk Jatigede untuk ditutup. Dalam perhitungan, perlu 200 hari selepas pintu air ditutup, untuk bisa menenggelamkan penuh delapan desa dan sebagian area 20 desa lainnya.

Proyek jumbo bendungan Jatigede sebenarnya telah dicanangkan sejak era Orde Lama Soekarno pada 1960-an. Lantas baru benar-benar digulirkan awal 1980-an persis pada era Orde Baru Soeharto. Jatigede adalah cerita rentetan pembangunan super besar yang digadang Soekarno melalui politik mercusuarnya. Kemudian terbengkalai karena kisruh peralihan kekuasaan.
Warga Desa Cipaku tengah membakar cemilan khas yaitu opak. Kegiatan itu biasa dilakukan oleh ibu-ibu setempat sore hari sambil menunggu waktu berbuka puasa. (CNN Indonesia/Hafizd Mukti Ahmad)


"Kami tahu waduk ini sejak zaman Bung Karno sampai sekarang belum bisa rampung karena masalah pembebasan lahan yang enggak segera diputuskan," ujar Jokowi ketika membuka rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan akhir Juni 2015. (Baca juga: Penggenangan Waduk Jatigede Terancam Tertunda Lagi)

Saat presiden berbicara, kesiapan pembedungan aliran sungai Cimanuk menurut Jakarta nyaris tanpa masalah. Namun tidak begitu nyatanya di lapangan.

Malam lantas makin larut. Rahmat menyudahi keluh kisahnya jelang dini hari. Kalimat akhirnya sebelum kemudian pergi menerbitkan pesimisme keberhasilan Megaproyek Jatigede. “Bendungan ini sudah lebih dari 30 tahun tidak jadi, saya doakan tidak akan pernah jadi,” ujar Rahmat sambil tertawa. (Baca juga: Pemerintah Mulai Bayar Kompensasi Warga di Waduk Jatigede) (sip)