Liputan Khusus

Siloka Jatigede dan Cerita Soal Bahaya Gempa

Diemaskresna, CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2015 14:19 WIB
Siloka Jatigede dan Cerita Soal Bahaya Gempa Buku Layang Cipaku Darmaraja Sumedang yang berisi cerita leluhur Sumedang, termasuk ramalan mengenai bendungan Jatigede. Konon buku ini dituliskan sekitar tahun 1700-an. (CNN Indonesia/Hafizd Mukti Ahmad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dahi Abah Rahmat seketika berlipat. Lelaki berusia 65 tahun yang dikenal sebagai tokoh masyarakat Desa Sukaratu, Darmaraja, Sumedang itu mengaku terkejut ihwal beredarnya informasi yang menyatakan waduk Jatigede berdiri megah di dekat daerah rawan gempa.

Ya, beberapa waktu lalu tersiar kabar konstruksi waduk Jatigede berdiri di atas salah satu lempeng tektonik aktif atau active fault yakni zona sesar Baribis. Sesar Baribis merupakan lempeng tektonik aktif yang membentang dari wilayah Cilacap di Jawa Tengah hingga ke kawasan Subang, melintasi beberapa daerah Jawa Barat.

Seakan diingatkan satu siloka -cerita Sunda lama, lelaki berusia 65 tahun itu pun megisahkan cerita leluhur Sumedang yang hingga kini masih dipercaya beberapa tokoh dan tetua. (Baca juga: Jatigede dan Tanda Tanya Tak Kunjung Sirna)

“Disini ada kacandran (pepatah) Cipelang Cipangayaman, Cimanuk Mareugih Deui. Walau terdengar mengerikan namun banyak orang sini masih mempercayai hal seperti itu," ujar kepada CNN Indonesia, saat bertemu di Sumedang, medio Ramadan lalu.

Abah mengungkapkan, sejatinya pepatah Cipelang Cipangayaman, Cimanuk Mareugih Deui memiliki arti akan ada suatu masa di mana Sungai Cimanuk dibendung oleh tanggul besar. Lantaran tanggulnya tak cukup kokoh, airnya pun akan kembali mengalir seperti biasa.

Apakah ini sebuah sinyalemen gagalnya proyek Jatigede? "Abah juga tidak tahu. lihat saja nanti,” cetus Abah.

Meski menjadi pihak yang mendukung pembangunan proyek, ia memperkirakan isu seperti ini akan ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat terdampak.
Dan benar saja, rumor mengenai keberadaan lempeng tektonik menjadi salah satu isu hangat yang bergulir di tengah penyelesaian pembangunan waduk, selain pembebasan lahan dan ancaman tergenangnya situs-situs bersejarah.
Pintu air waduk Jatigede dilihar dari bawah tanggul. (CNN Indonesia/


Lantaran berada di atas lempeng tektonik, pembangunan waduk seluas 4.980,3 Hektare itu kembali diisukan bakal mengancam keselamatan warga oleh sejumlah pihak yang tidak terima dengan upaya ganti rugi yang saat ini tengah diproses pemerintah.

“Kalau Abah mengharapkan supaya tanggul nggak jebol. Kasihan juga pemerintah yang sudah keluar banyak uang ganti rugi dan bangun waduk ini,” ujarnya.

Dari penelurusan data yang dilakukan CNN Indonesia, informasi mengenai keberadaan sesar sendiri kembali beredar takkala sejumlah pengajar di Fakultas Geologi, Universitas Padjadjaran melalukan penelitian di kawasan Jatigede. Adalah Emi Sukarsih, Nana Sulaksana, Achmad Sjafrudi, dan Edi Tri Haryanto, empat geolog yang beberapa waktu lalu meneliti pengaruh keadaan DAS (Daerah Aliran Sungai) Cimanuk yang diketahui menjadi sumber pasokan, terhadap tingkat erosi dan pendangkalan di Waduk Jatigede. (Baca juga: Jatigede: Cerita Panjang Persoalan Pembebasan Lahan)

Dari hasil penelitiannya, Edi menyatakan bahwa DAS di kawasan waduk Jatigede terbentuk dari beberapa struktur geologi yang mengindikasikan wilayah tersebut rawan erosi dan longsor. Akan tetapi, ia mengaku belum dapat memastikan perihal keberadaan sesar aktif di wilayah Jatigede.
Pasalnya penelitian yang dilakukan baru sebatas mendalami karakteristik bentuk DAS Cimanuk dan pengaruhnya terhadap konstruksi Waduk Jatigede. Namun Edi tak menampik bahwa dengan tingginya tingkat intensitas erosi di kawasan hulu sungai akan mengganggu kinerja alat-alat yang dipasang di sekitar waduk.

“Butuh penelitian lebih detil dan rinci kalau memang mau membuktikan bahwa Jatigede berada di kawasan sesar, walaupun di penelitian ini juga mengindikasikan hal tersebut,” ujarnya.

Isu Memanas

Rumor mengenai keberadaan sesar aktif di kawasan Jatigede sendiri kian berkembang tatkla gempa berkekuatan 3,6 skala ritcher mengguncang kota yang dikenal sebagai penghasil tahu tersebut, Minggu (5/7). Mengutip data Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 08.32 dengan Pusat gempa di 4 km sebelah tenggara Kabupaten Sumedang dengan kedalaman 10 km.

Meski gempa tersebut terbilang tak cukup bahaya, informasi sumir ini lagi-lagi menjadi bahan pemberitaan di beberapa media nasional dan lokal jelang pengenangan waduk Jatigede pada 1 Agustus mendatang. (Baca juga: Warga Bertahan di Desa yang Bakal Tenggelam oleh Jatigede)

Butuh penelitian lebih detil dan rinci kalau memang mau membuktikan bahwa Jatigede berada di kawasan sesar, walaupun di penelitian ini juga mengindikasikan hal tersebutPengajar di Fakultas Geologi, Universitas Padjadjaran
Yang menarik, kali ini rumor tersebut beredar dan dikemas dalam bentuk infografis yang membuat para awak media dan pembaca dapat dengan mudah mengetahui duduk permasalahan dan kendala yang ada. Tak pelak, gelombang penolakan terhadap peresmian waduk pun kian terkoordinasi dan masif.

Padahal saat ini konstruksi waduk sendiri telah mencapai 99,75 persen. “Sebenarnya kami tinggal tunggu perintah (untuk mengairi waduk Jatigede) karena sejauh ini konstruksi waduk telah selesai. Tinggal dipoles sana-sini sedikit saja jika ada kekurangan,” ujar Ketua Bagian Umum Satuan Kerja unit Bendungan Jatigede, beberapa waktu lalu.

Di tengah beredarnya informasi mengenai Waduk Jatigede yang berdiri di atas lempeng aktif, Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyatakan proyek yang ditaksir menelan dana tak kurang dari Rp 7 triliun akan tetap diresmikan dalam waktu dekat. Ini mengingat pengorperasian waduk akan bermanfaat pada upaya irigasi dalam rangka menjaga cadangan pangan nasional.

Menyoal potensi gempa yang bisa muncul sewaktu-waktu, Basuki bilang pemerintah meyakni bahwa kontraktor yakni China Sinohdyro dan PT Wijaya Karya (Tbk) telah merancang konstruksi waduk Jatigede dengan mempertimbangkan struktur tanah dan memitigasi bencana yang mengintai. (Baca juga: Penggenangan Waduk Jatigede Terancam Tertunda Lagi)

“Pasti sudah dihitung. Sekarang (masalahnya) hanya pada pembebesan lahan dan harapannya dialiri mulai Agustus,” tuturnya beberapa waktu lalu di kantornya di Jakarta.

Sejatinya, Abah dan Menteri Basuki memiliki kesamaan agar proyek yang sudah dimulai sejak 1960-an itu segera dioperasikan. Akan tetapi, di area yang akan digenang sana tak kurang dari 11 ribu kepala rumah tangga yang masih enggan beranjak lantaran mereka masih menunggu penggantian uang relokasi dan kerohiman yang sebenarnya bisa selesai asal ada komitmen dari semua pihak.

Apakah 1 Agustus, penggenangan waduk Jatigede akan benar-benar dimulai?

“Saya rasa tidak bisa. Pak Jokowi harusnya bisa kesini, liat langsung supaya tahu duduk permasalahannya. Siapa yang salah, siapa yang benar, dan siapa yang bermain,” kata Nanang, warga Darmaraja, Sumedang. (Fokus: Kisah Tiga Orde Waduk Jatigede) (sip)