Kepala Subdit Pendidikan dan Rekayasa (Kasubdit Dikyasa) Ditlantas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ipung Purnomo mengatakan kemacetan terjadi pada jam-jam sibuk. Namun, kemacetan yang terjadi kenaikannya tidak signifikan setiap harinya.
"Kalau dilihat kemacetan pasti ada, tapi tidak signifkan kenaikanya cuma 2-3 persen per hari, biasanya terjadi di jam sibuk seperti jam berangkat dan pulang kerja," kata Ipung, kemarin. (Baca juga: Jakarta Dijejali 500 hingga 700 Kendaraan Baru Setiap Hari)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, jalan rusak dan proyek pembangunan MRT (Mass Rapid Train) menjadi penghambat jalan yang menyebabkan semakin parahnya macet di Jakarta. Belum lagi ditambah pengendara yang tidak menaati rambu-rambu lalu lintas.
"Untuk Senin pagi kami tidak apel, semua personil diterjunkan untuk mengatur lalu lintas, jumlahnya 5 ribu. 5 ribu personel Biasanya Senin Sore dan Jumat Pagi karena merupakan waktu terparah macet di Jakarta. Kalau hari biasanya hanya 200 personel," ujarnya.
Upaya lainnya, pihaknya berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan.
"Pedagang Kaki Lima (PKL) juga membuat macet, makanya kita koordinasi agar ditertibkan sehingga arus lalu lintas jadi lancar," kata Ipung.
Ipung mengatakan dirinya mendukung Pemerintah Provinsi Jakarta yang membenahi transportasi umum sebagai salah satu solusi kemacetan.
"Kami mendukung pembenahan transportasi massal yang dilakukan pemprov Jakarta agar aman dan nyaman sehingga masyarakat yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum," katanya.
Sementara itu, untuk pengendara kendaraan dirinya menghimbau agar keselamatan menjadi prioritas utama. Sehingga harus menaati peraturan lalu lintas dan tata tertib dalam berkendara. Menurutnya, jika pengendara tertib, hal itu juga dapat mengurangi kemacetan di Jakarta. (pit)