Mantan Direktur Jenderal Otonomi Daerah itu mengaku jika dalam klarifikasi ditemukan tuduhan pencemaran nama baik dan fitnah tanpa dasar, maka ia tidak segan menuntut Ahok agar menyampaikan permintaan maafnya. Ia juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan akan melaporkan Ahok ke pihak berwajib.
"Kalau berkembang tidak baik, kami juga bisa mempolisikan Ahok, dianggap pencemaran nama baik alumni dan institusi," kata Djohan, saat bertandang ke DPR RI, Jakarta, Rabu (9/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mau ketemu. Sedang diatur waktu, kalau bisa satu dua hari ini. Jangan isu ini berkembang tidak sehat," kata Djohan.
Terkait dengan permasalahan rekruitmen penerimaan sekolah calon pamong praja yang sering mendapat stigma buruk, Djohan menegaskan saat ini proses penerimaan telah berubah.
"Itu sudah tidak ada lagi, jadi anak petani, anak nelayan, anak wartawan bisa masuk. Jadi tidak ada lagi anak bupati, sekda. Karena kaderisasi sudah terbuka, transparan," jelas Djohan.
Sebelumnya, Ahok melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut agar IPDN dibubarkan. Ia menilai, dengan adanya Undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN) maka sekolah calon pamong praja itu tidak lagi diperlukan.
"IPDN ada ketika belum ada Undang-undang ASN. Jadi semangat Undang-undang ASN itu, sudah tidak membutuhkan IPDN," kata Ahok, di Balai Kota, Jakarta pada Senin lalu.
Kala itu, Ahok juga menjelaskan dalam UU ASN tidak ada perbedaan antara negeri dan swasta. Selain itu, Ahok mengatakan semua orang bisa langsung menjadi PNS. Dahulu, Ahok merupakan salah satu anggota tim penyusun UU ASN saat menjabat anggota Komisi II DPR. (pit)