BNPB: Kerugian Negara Akibat Kebakaran Hutan Melebihi Rp 20T

Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2015 19:03 WIB
BNPB: Kerugian Negara Akibat Kebakaran Hutan Melebihi Rp 20T Kepala BNPB Willem Rampangilei menjelaskan perihal perkembangan penanganan kebakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan, Kamis (1/10). (CNN Indonesia/ Aulia Bintang Pratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah menaksir kerugian yang disebabkan oleh bencana kebakaran hutan dan kabut asap di Indonesia mencapai lebih dari Rp 20 triliun. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei saat menggelar jumpa pers di gedung BNPB, Kamis (1/10).

Angka tersebut muncul dari mulut Willem karena dia membandingkannya dengan kerugian yang dialami negara pada 2013 lalu. Saat itu hanya Riau yang menderita kebakaran lahan serta kabut asap dan kerugian yang didapat adalah Rp 20 triliun.
"Tahun itu, berdasarkan assesment World Bank kerugiannya adalah Rp 20 triliun, hanya di Riau saja. Sekarang kejadian ada di enam provinsi dan dengan begitu (kerugian) akan lebih dari Rp 20 triliun," kata Willem.

Sementara untuk penanganan kebakaran dan kabut asap tahun ini, Willem mengatakan bahwa BNPB sudah menghabiskan dana hingga Rp 500 miliar. Sayangnya Willem enggan merinci dana tersebut disalurkan ke mana saja.


"Memang biaya pencegahan selalu lebih kecil daripada penanganan," katanya.

Target Akhir Oktober

Willem mengatakan bahwa pemerintah menargetkan kebakaran dan kabut asap bisa hilang pada akhir Oktober atau awal November 2015. Itu artinya ada rentang waktu satu bulan untuk mewujudkan target tersebut.

"Saya harap dalam satu bulan bisa selesai, akhir Oktober atau awal November," kata Willem saat menggelar jumpa pers di gedung BNPB, Kamis (1/10).

Dalam bulan tersebut Indonesia akan mulai memasuki musim penghujan dan air memang menjadi alat paling ampuh untuk menghilangkan asap. Apalagi, kata Willem, saat ini beberapa daerah sudah mulai terguyur hujan.

"Kalau dilihat fenomena awalnya daerah Pontianak dan Riau sudah mulai hujan," katanya.

Tak hanya mengandalkan air hujan, Willem mengatakan saat ini proses pemadaman menggunakan jalur darat dan jalur udara terus dilakukan. Namun persediaan air memang harus dijaga agar tidak tanggung.

Memang, kata Willem, perlu waktu untuk memadamkan api dan menghilangkan asap di daerah-daerah tersebut. Namun, dia yakin hujan nanti akan sangat membantu pemadaman dan penghilangan asap. (utd/utd)