Berdasarkan pantauan CNN Indonesia, kabut asap paling pekat terjadi pada pagi hari, yaitu sekitar pukul 5 hingga 6 di mana warga mulai beraktifitas.
Akan tetapi, di antara mereka yang beraktifitas, tidak banyak yang menggunakan masker. Salah satunya adalah Nazaruddin (53).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menambahkan masker yang dijual di Palembang kebanyakan adalah masker kertas biasa atau masker kain yang bercorak. "Saya belum pernah melihat masker N95 dijual di sini," ujar pria yang akrab disapa Udin ini.
Menjelang siang, tampak kabut cukup terurai dengan keberadaan angin dan cahaya matahari. Kabut yang menipis membuat jadwal keberangkatan dan kedatangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II lebih sibuk pada siang hari.
Sementara di pagi hari, tidak ada penerbangan yang berangkat atau tiba di bandara ini.
Jumlah titik panas kian meluas di sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan. Berdasarkan data BNPB kemarin, titik panas di Kalimantan telah mencapai 712 dan di Sumatera 502.
Sejauh ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengaku telah menerjunkan lebih dari 20 pesawat sejenis helikopter untuk memadamkan api. Selain itu, modifikasi cuaca dan penerjunan ribuan personil gabungan TNI dan Polri juga telah dilakukan untuk memaksimalkan pemadaman ini.
Di sisi lain, bagi korban kabut asap, pemerintah tengah mengusulkan rencana pemberian kompensasi sebesar Rp 900 ribu pe orang melalui mekanisme Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Usulan kompensasi tersebut mesti menunggu persetujuan anggaran dari Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan. (utd/utd)