Kasus pelanggaran HAM yang jadi sorotan karena belum juga dituntaskan hingga kini adalah kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib.
Istri mendiang Munir, Suciwati mengatakan, kasus pembunuhan suaminya adalah tolak ukur komitmen Jokowi dalam penuntasan kasus HAM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum jadi presiden, Jokowi malah menjadikan Hendropriyono sebagai salah satu tim suksesnya.
Suci juga ingat betul saat kampenye Jokowi mengunjungi Fitri Nganthi Wani, anak dari seniman Wiji Tukul yang keberadaanya masih misteri hingga kini.
Namun sampai saat ini kasus tersebut juga tidak jelas.
Kasus pembunuhan Munir terjadi pada 7 September 2004. Ia meninggal dunia di dalam pesawat Garuda Indonesia jurusan Jakarta - Amsterdam. Munir meninggal dunia karena diracun menggunakan racun arsenik.
Dalam kasus ini, pengadilan sudah memvonis bekas pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto 14 tahun penjara pada tahun 2005. Ia terbukti menjadi orang yang menaruh racun di makanan yang dikonsumsi Munir.
Sementara Bekas petinggi BIN Muchdi Prawiro Pranjono bahkan divonis bebas oleh pengadilan karena dinilai tak terlibat dalam pembunuhan itu.
Untuk Pollycarpus sendiri hanya menjalani masa hukuman selama 8 tahun 11 bulan. Pada 28 Desember 2014 atau sebulan lebih setelah Jokowi dilantik jadi Presiden, Pollycarpus mendapat pembebasan bersyarat.
Meski orang yang membunuh Munir sudah dihukum, Suci tak serta merta puas. Ia yakin, ada pelaku lain yang belum dimintai tanggung jawab.
Karena itu itu Suci bertekad agar kasus pembunuhan suaminya bisa disidangkan lagi dengan menghadirkan mereka turut serta dalam penghilangan nyawa Munir 11 tahun silam.
Suciwati beserta elemen masyarakat sipil juga berencana menggugat pemerintah yang dinilai mengabaikan pelanggaran HAM yang terjadi. "Saya tidak akan menyerah, tidak ada kata menyerah dalam kamus saya," kata Suci. (sip)