“Cukup tragis. Rumah mereka hancur terkena badai. Mereka sekarang enggak punya rumah, hanya mendirikan gubuk dari triplek seadanya,” kata Karsiwen, Ketua Kabar Bumi, kepada CNNIndonesia.com, Minggu (13/12).
Pasca-badai, anak-anak Mary Jane dibawa oleh sang suami ke daerah yang tak terkena amukan badai. Sementara ibu mereka hingga kini berada di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan, Yogyakarta –menanti pengusutan kasus perdagangan manusia di negaranya yang diduga membuat dia menjadi korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Proses hukum di Filipina beda jauh dengan di Indonesia. Di Indonesia bisa saja satu kasus rampung diselidiki dalam enam bulan, tapi di Filipina bisa dua-tiga tahun,” kata Iweng, sapaan Karsiwen.
Kabar Bumi berharap proses hukum tersebut dapat dipercepat agar kepastian hukum atas Mary Jane segera didapat. Terlebih kedua anak Mary Jane saat ini di Filipina hidup dalam kondisi sulit.
“Mereka memang sangat miskin. Rumah keluarga Mary Jane di Filipina hanya terdiri dari satu ruangan. Ruang tidur ya juga dapur untuk memasak. Saya langsung ingat waktu Mary Jane bercerita dia tidak punya kasur di rumah,” ujar Iweng.
Tragedi Mary Jane bermula ketika dia direkrut oleh tetangganya, Kristina, untuk bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga secara ilegal. Untuk ke Malaysia, Mary Jane waktu itu menggadaikan motor dan ponselnya.
Setibanya di Kuala Lumpur, Malaysia, pekerjaan yang dijanjikan untuk Mary Jane ternyata sudah ada. Mary lalu diminta Kristina untuk lebih dulu ke Indonesia. Ia dijanjikan bakal segera dipekerjakan di Malaysia sekembalinya dari Indonesia.
Ketika hendak ke Indonesia, tepatnya Yogyakarta, Mary Jane dibekali uang US$500 dan diberi tas untuk menyimpan pakaian dan peralatan pribadinya. Ternyata di dalam tas itu terdapat heroin 2,6 kilogram.
Mary Jane pun ditangkap otoritas Indonesia begitu mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta.