Bung Karno mencetuskan istilah yang sekarang dipakai pemerintahan Joko Widodo ini dalam pidato kenegaraan memperingati kemerdekaan pada 17 Agustus 1957.
"Revolusi mental ala Soekarno adalah semacam gerakan hidup baru untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru," kata Puan saat membuka Gerakan Nasional Revolusi Mental di Kemensos, Salemba, Jakarta, Rabu (16/12).
Puan mengatakan gerakan hidup baru diperlukan untuk mengubah perilaku dan cara berpikir rakyat Indonesia dari berbagai kalangan. Dengan cara hidup yang baru tersebut, Puan berharap nantinya Indonesia bisa menjadi bangsa besar yang bisa bersaing dengan negara lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puan berharap gerakan nasional revolusi mental tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dapat diterapkan secara sungguh-sungguh oleh tiap lembaga pemerintah, pihak swasta, serta masyarakat.
Ia kemudian menyinggung soal diajarkannya lagu daerah di bangku sekolah. Puan menilai pengajaran soal lagu daerah di tingkat pendidikan dini sangat penting agar siswa mengenal kearifan lokal dan budaya bangsanya.
"Saya tidak hafal. Namun paling tidak, sekarang saya masih bisa menyanyikannya, paling tidak bagian ref-nya," katanya.
Kemenko-PMK telah menerbitkan buku saku tentang panduan umum revolusi mental. Buku saku ini disusun oleh sejumlah pakar dan peneliti yang terkemuka di Indonesia.
Beberapa nama penyusun yang cukup tenar, di antaranya: Arief Budimanta, Paulus Wirutomo, Rosiana Silalahi, Slamet Rahardjo, Yudi Latief, serta Hamdi Moeloek.
Dalam buku panduan tersebut, dijelaskan tiga tujuan revolusi mental. Pertama, mengubah cara pandang, pola pikir, sikap, dan cara kerja yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan sehingga Indonesia menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Lihat juga:PDIP Akui Nawa Cita Sulit Diwujudkan |
Kedua, membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimistis dalam menatap masa depan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan besar untuk berprestasi tinggi, produktif, dan berpotensi menjadi bangsa maju dan modern dengan fondasi tiga pilar Trisakti.
Ketiga, mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian yang kuat melalui pembentukan manusia Indonesia baru yang unggul. (sur)