"Laporan yang masuk ke kami adalah Metro TV dikatakan tidak memberikan panggung yang cukup untuk Novanto. Ketika kami cek ke Metro TV, kami melihat sudah ada siaran yang dimuat tentang pembelaan Novanto," kata Stanley pada konferensi pers di Lembaga Bantuan Hukum Pers, Jakarta, Kamis (17/12).
Tayangan Metro TV soal Setya Novanto tersebut, ujar Stanley, telah dimuat tanpa rekayasa atau pengeditan yang mengubah konten. Oleh karena itu ia menilai Metro TV tidak melanggar kode etik jurnalisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun menilai Metro TV tidak bisa disalahkan karena memutar rekaman video sidang tertutup Setya Novanto dengan Majelis Kehormatan Dewan. Pasalnya, Metro TV dinilai hanya sebagai pihak yang menerima bocoran rekaman sidang tersebut.
"Seharusnya laporan dimasukkan ke Dewan Pers, bukannya langsung melapor ke Kepolisian. Sikap Setya Novanto tidak selaras dengan mekanisme penyelesaian sengketa pers yang diatur dalam UU Pers," kata dia.
Nawawi juga merujuk pada putusan Mahkamah Agung Nomor 1608/K.Pid/2005 yang menyatakan UU Pers disamakan dengan primat privilege yang berarti UU Pers harus didahulukan dibanding aturan pidana lainnya.
"Sehingga bila ada protes akan pemberitaan, maka harus mengutamakan mekanisme penyelesaian sengketa pers dalam UU tersebut," ujar Nawawi.
"Dalam nota kesepahaman itu, disepakati bahwa laporan atas pemberitaan dilimpahkan kepada Dewan Pers, bukan diproses oleh polisi," kata Bambang.
Masalahnya, kata Bambang, sosialisasi terkait nota kesepahaman tersebut tidak dilakukan secara baik. Akibatnya banyak polisi di level bawah atau yang bertugas di daerah tidak mengetahuinya.
Hal ini kemudian berdampak pada pemrosesan laporan atas pemberitaan oleh kepolisian yang seharusnya dilimpahkan ke Dewan Pers.
Novanto melaporkan Pemimpin Redaksi Metro TV Putra Nababan karena dianggap mencemarkan nama baiknya lewat pemberitaan Metro TV.
Putra menyayangkan pelaporan dirinya ke Bareskrim Polri. Ia menganggap ini merupakan sebuah ironi lantaran Setya Novanto merupakan anggota Dewan yang notabene lembaga pembuat undang-undang.
“Pelaporan yang dilakukan Setya Novanto merupakan batu ujian bagi pers saat ini,” kata Putra. (agk)