"Saya ingin operasi tangkap tangan bisa diperluas, bisa diperbanyak mungkin bisa dibagi. Kalau ternyata hasilnya kecil ditangani ke teman (penegak hukum) yang lain. Kalau besar kita tangani sendiri," kata Agus saat jumpa pers usai serah terima jabatan di Gedung KPK, Jakarta kemarin.
"Perkara big fish atau yang kecil itu penting bagi saya. Sangat indah kalau KPK bisa memposisikan kasus-kasus yang besar dan kasus kecil didelegasikan dengan mengawasi," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Agus juga memimpikan adanya deputi khusus yang membidangi koordinasi dan supervisi terhadap lembaga penegak hukum lain. Deputi ini akan membantu KPK yang tidak mungkin menangani korupsi hingga pelosok di seluruh Indonesia.
Lihat juga:Saut Situmorang Emoh Usut Century dan BLBI |
"Kita masih di posisi 34 sementara Malayasia sudah 50 semoga ini bisa diperbaiki. Data menunjukkan negara yang indeksnya tinggi misalnya Singapura dan Denmark, tidak ada yang tidak settle. Begitu bisa menghilangkan korupsi rakyat bisa settle," katanya.
Gagasan tersebut bakal dituangkan dalam peta jalan yang akan dirancang dan dibahas bersama lima pimpinan dalam dua pekan ini usai serah terima jabatan. Tak hanya internal, mereka juga akan membuka kesempatan pihak eksternal seperti pakar dan aktivis korupsi ikut membahas peta jalan.
"Belakangan ini suara pesimis muncul. Kalau perlu teman-teman yang ada di luar itu diundang. Apakah itu Pak Romly, ICW (Indonesia Corruption Watch), Refly Harun, harus diundang. Begitu road map jadi di akhir masa jabatan kami tolong dinilai," ujarnya.
Peta jalan yang sama juga digunakan untuk bidang pencegahan selain penindakan meliputi sosialisasi pemberantasan korupsi agar masuk ke Puskesmas, rumah sakit, sekolah, dan lainnya. Selain itu, terdapat pula pengawasan atau evaluasi terhadap program pemerintah. Hasilnya, dapat memberikan masukan ke depannya untuk menghindari korupsi. (utd)