"Alangkah baiknya semua pekerjaan kita kerjakan satu kesepakatan tidak saling menyerang sehingga hasilnya bisa maksimum jangan punya pikiran negatif dulu tapi positif supaya bisa kita maju," kata Basaria saat jumpa pers usai serah terima jabatan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (21/12).
Lihat juga:Saut Situmorang Emoh Usut Century dan BLBI |
"Mudah-mudahan tidak terjadi keributan karena saya berasal dari sana dan saya kenal banyak. Apa pun yang dikerjakan oleh KPK dan penegak hukum yang lain, output nanti adalah bagaimana masyarakat kita sejahtera," ucapnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, Basaria berpendapat dibutuhkan visi dan misi yang sama dari KPK dan Polri dalam melaksanakan amanat undang-undang untuk memberantas korupsi.
Pihak Kepolisian menyerang balik KPK dengan menetapkan dua pimpinan KPK Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto sebagai tersangka. Keduanya disangka menerima duit dari adik tersangka kasus Sistem Korupsi Radio Terpadu (SKRT) Anggoro Widjojo, Anggodo Widjojo.
KPK mengungkapkan adanya kerugian negara hingga ratusan miliar rupiah dalam proyek pengadaan tahun anggaran 2011 tersebut. Tak berselang lama, Polri memutuskan untuk mencabut sejumlah penyidiknya yang tengah diperbantukan ke KPK.
Kemudian, pada 2015, dua pimpinan KPK yakni Abraham Samad dan Bambang Widjojanto ditetapkan sebagai tersangka setelah KPK menetapkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka suap dan gratifikasi. Kasus ini dinilai sebagai bentuk serangan balik Kepolisian.
Tak berhenti sampai di situ, Kepolisian memutuskan untuk mengusut tuntas kasus penyidik KPK Novel Baswedan. Diketahui, Novel adalah penyidik andalan KPK yang menangani sejumlah kasus. (utd)