MUI: Ada 300 Lebih Aliran Sesat di Indonesia

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2016 18:06 WIB
MUI: Ada 300 Lebih Aliran Sesat di Indonesia Presiden Joko Widodo didampingi Mensesneg Pratikno serta bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat berdialog dengan Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/1). (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencatat ada 300 lebih aliran kepercayaan yang tergolong sesat di Indonesia sampai saat ini. Namun, ratusan aliran sesat tersebut biasa muncul dan menghilang sewaktu-waktu.

Menurut Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI, Utang Ranuwijaya, ratusan aliran sesat di Indonesia sudah terpantau sejak 1995 silam. Namun, aliran-aliran sesat tersebut umumnya muncul dan menghilang dengan menggunakan nama-nama organisasi yang berbeda-beda.

"Itu biasa timbul tenggelam dan terjadi perubahan bentuk, reinkarnasi, dan bentuk lain. Ketika diketahui oleh khalayak kemudian mereka mengubah bentuk dimana sesuai dengan situasi kondisi masyarakat yang membutuhkan mereka," kata Utang di Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (21/1).


Salah satu aliran sesat yang terpantau MUI dan sedang mencuri perhatian publik saat ini adalah Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Gerakan tersebut telah terbukti menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan salah satu agama yang diakui di Indonesia, Islam.

Organisasi tersebut juga diketahui merupakan metamorfosis dari Al Qiyadah Al Islamiyah yang sudah dilarang kegiatannya sejak 2007 silam oleh Jaksa Agung.

Utang berkata bahwa MUI akan melakukan pembinaan bagi para mantan anggota Gafatar kedepannya. Pembinaan akan dilakukan setelah MUI mengeluarkan fatwa. Objek pembinaan juga terbatas hanya bagi para bekas anggota, dan tidak menyentuh petinggi gerakan tersebut.

"MUI nanti setelah mengeluarkan fatwa, biasanya yang menjadi perhatian kita adalah pembinaan teurutama pada para korban. Jadi para korban itu diambil, kemudian mereka diminta bertaubat dan bersyahadat kembali, kemudian dilakukan pembinaan akidah dan syariah," ujarnya.

Waktu pembinaan terhadap para bekas anggota Gafatar tidak bisa digeneralisasi. Menurut Utang, lamanya waktu pembinaan tergantung pada kuat atau tidaknya keyakinan agama orang terkait. (obs/obs)