Bagaimanapun, Ambarini tidak pernah tahu apakah Nur Fatimah Zahra (12) dan M. Rasyid Ali (9) akan tiba di Rumah Aman. Dia hanya tahu bahwa mereka telah dibawa kabur oleh mantan suaminya, Amarullah alias Beni (37). ke Mempawah, Kalimantan Barat.
Lebih dari lima tahun Ambarini bercerai dengan Beni. Pilihan untuk memutus tali pernikahan diambil bukan sekadar dipicu perselisihan dalam urusan rumah tangga. Perbedaan keyakinan telah memaksa mereka untuk berpisah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahmad Musadeq, di bawah payung Al-Qiyadah, mengaku sebagai nabi terakhir setelah Muhammad.
Perlahan hubungan Ambarini dan Beni pun kian merenggang. Setelah empat tahun pisah ranjang, mereka bercerai.
Meski demikian, perceraian tak memutus hubungan Beni dengan anak-anaknya. Pria yang bekerja sebagai kru di rumah produksi perfilman itu biasa menghabiskan akhir pekan dengan mengajak kedua anaknya tinggal di rumah yang terpisah dengan Ambrini.
Semua berjalan normal dan mantan pasangan suami-istri itu tak pernah lagi menyinggung atau mengusik keyakinan masing-masing. Sampai akhirnya Ambarini mendapati kedua anaknya tidak pernah pulang setelah dijemput Beni pada 19 Desember 2015.
"Saya bingung harus mencari ke mana karena belum ada kepastian mereka termasuk orang yang ikut dipulangkan. Saya butuh kepastian, di manapun mereka, pasti saya kejar," kata Ambarini.
Ambarini tak tahu persis kapan dan bagaimana kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyah berubah nama menjadi Gerakan Fajar Nusantara. Tapi dia yakin wilayah Mempawah yang menjadi teritori berkumpulnya Gafatar merupakan "negara kecil" yang sudah lama didambakan Musadeq.
Menurut Ambarini, iuran yang diserahkan anggota biasanya tidak kurang 30 persen dari penghasilan mereka, bahkan bisa lebih.
"Iuran itu dikumpulkan untuk persiapan hijrah. Hijrah membangun negeri dan memulai kehidupan dari nol untuk menjadi orang yang benar. Mungkin saja tempat yang di Kalimantan itulah yang mereka sebut negara baru," kata Ambarini.
Ambarini berharap dapat segera bertemu kedua anaknya. Hari ini mestinya ada kepulangan gelombang kedua warga eks Gafatar dari Kalimantan ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dengan jumlah sekitar 800 orang.
Meski demikian Ambarini tak tahu apakah kedua anaknya masuk dalam gelombang kedua ini. Dia pun tak tahu eks anggota Gafatar yang tiba hari ini akan ditempatkan di mana, apakah di Cibubur seperti gelombang pertama atau di lokasi lain.
Namun Ambarini bertahan di Rumah Aman Cibubur sampai informasi terbaru dia dapatkan. Tekadnya sekuat baja: dia harus menemukan kedua buah hatinya. (gil/agk)