Ditolak Ormas, Monolog Tan Malaka Tetap Digelar di Bandung

Abraham Utama & Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Kamis, 24/03/2016 11:40 WIB
Ditolak Ormas, Monolog Tan Malaka Tetap Digelar di Bandung Kelompok Main Teater bersama staff IFI Bandung memberikan penjelasan terkait pembatalan pementasan Monolog Teater Tan Malaka "Rusa Berbulu Merah" di IFI Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/3). Pementasan Monolog Teater yang dijadwalkan dipentaskan pada Rabu (23/3) malam dibatalkan karena dilarang sejumlah Ormas Islam. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertunjukan monolog bertajuk Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah akan digelar di Gedung Institut Francais Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/3) sore.

Monolog yang digagas kelompok Main Teater tersebut batal digelar Rabu kemarin karena alasan keamanan menyusul penolakan organisasi masyarakat.

"Atas jaminan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pertunjukan pada tanggal 24 Maret akan tetap berlangsung pukul 16.00 hingga 20.00 WIB," kata penulis skenario monolog tersebut, Ahda Imran, pagi tadi, melalui sambungan telepon.


Ahda menuturkan, Selasa lalu ia kedatangan dua orang yang mengaku sebagai agen intelijen Kodim 0618/Kota Bandung dan seorang polisi dari Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung.

Kepada Ahda, ketiga orang tersebut menanyakan perizinan dan substansi yang akan dipaparkan pada monolog Tan Malaka.

"Izin yang mengurus IFI. Saya jelaskan substansi monolog secara terbuka. Saya berikan naskah dan diskusikan itu dengan mereka," ucapnya.

Usai pertemuan tersebut, ucap Ahda, tiga agen intelijen itu menyatakan tidak ada yang janggal pada naskah monolog Tan Malaka.

Tak lama berselang, Penanggung Jawab Bidang Budaya dan Komunikasi IFI Bandung, Ricky Arnold, menyebut pesan berantai berisi ajakan menyerbu Monolog Tan Malaka beredar di aplikasi pesan singkat Whatsapp.

Ricky berkata, pesan itu menyatakan Monolog Tan Malaka merupakan bagian dari Festival Belok Kiri yang berlangsung di Jakarta.

Diketahui, festival itu juga mendapatkan kecaman dari sejumlah ormas. Batal digelar di Taman Ismail Marzuki, panitia Festival Belok Kiri memindahkan lokasi acara ke kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta.
"Siang hari sebelum monolog, massa yang mengatasnamakan diri dari ormas Front Pembela Islam mulai mendatangi IFI. Mereka datang untuk memboikot karena menduga monolog itu berbau komunis," kata Ricky.

Keributan di IFI pun terjadi petang hari kemarin antara massa FPI dan sebagian dari 150 penonton monolog. Ricky berkata, anggota FPI sempat masuk ke dalam Gedung IFI dan berdiri di sekitar auditorium.

Mencegah insiden yang lebih besar, pihak IFI lantas memutuskan untuk membatalkan monolog. "Tidak semua penonton bisa mengerti dengan masalah yang kami hadapi saat itu," ucap Ricky.
Pada saat yang bersamaan, Ricky bersama beberapa kru Main Teater menghadap Ridwan Kamil. Rikcy berkata, mereka menjelaskan duduk perkara yang terjadi di IFI.

Ricky berkata, Komandan Kodim 0618/Kota Bandung Kolonel Agoes Hari Soewanto yang saat itu juga berada di kantor Ridwan turut menyaksikan pertemuan tersebut.

"Pak Dandim, besok saya mau datang, tolong diamankan," ucap Ricky menirukan perkataan Ridwan kepada Agoes.
Melalui pernyataan publik mereka, Main Teater berharap acara kebudayaan tidak lagi dikekang. Mereka menyatakan, intoleransi tidak dapat dibiarkan tumbuh di Indonesia. 

"Solidaritas mesti dibangun erat. Semoga peristwa yang kami alami tidak terulang lagi," tulis mereka.

(abm/utd)