Cerita Calo Obat soal Vaksin Harga 'Miring' di Pasar Jakarta

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Rabu, 29/06/2016 15:55 WIB
Cerita Calo Obat soal Vaksin Harga 'Miring' di Pasar Jakarta Ilustrasi. (Getty Images/Mario Tama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pukul 09.00 pagi, Pasar Pramuka di timur Jakarta berdenyut. Toko-toko mulai ramai dengan aktivitas jual beli. Ada sekitar 400 kios yang memenuhi bangunan empat lantai di pasar yang berdiri sejak tahun 1975 itu.

Pasar Pramuka yang dikenal luas sebagai pusat perlengkapan medis, menjual berbagai jenis obat, mulai obat bebas hingga obat generik dan obat paten yang mestinya baru bisa dibeli dengan resep dokter. Beragam obat itu bisa ditemukan di lantai dasar dan lantai satu pasar itu.

Di tengah kesibukan pasar itu, seorang pria berambut cepak berpenampilan preman mengawasi seorang gadis yang berjalan berputar-putar bak tak tentu arah. Tak berapa lama kemudian, ia memanggil si gadis.


“Ssst mbak, mbak,” ujarnya setengah berbisik sambil menghampiri gadis itu. Tanpa basa-basi, ia bertanya, “Mbak sedang cari obat aborsi, ya?”

Si gadis tampak kaget, namun kemudian terlibat perbincangan intens dengan pria yang memanggilnya.

Di Pasar Pramuka, segala jenis obat dengan harga miring memang bisa didapat mudah, asal tahu trik untuk mendapatkannya, termasuk lewat calo. Pria berpenampilan preman itu salah satunya.

Pria yang enggan disebutkan namanya itu bukan orang awam di dunia medis. Dia bekerja di apotek, dan karenanya tahu soal obat-obatan.

“Saya kerja di apotek, menyambi jadi calo di sini karena upah di apotek kecil,” ujarnya ketika ditemui CNNIndonesia.com di warung kopi kawasan Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (29/6).
Setelah mengobrol ini-itu, percakapan menyinggung soal vaksin. Ini juga salah satu barang yang ternyata dijual di Pasar Pramuka.

Semula si calo pria enggak bicara soal vaksin. “Waduh, itu lagi ramai, enggak ah, saya enggak tahu.”

Namun akhirnya ia bercerita soal jual beli vaksin di pasar itu. Dia mengaku tak bisa membedakan antara vaksin asli atau palsu.

“Saya tidak tahu (bedanya). Saya pernah jual vaksin ke bidan. Mereka pesan banyak” katanya.

Vaksin, obat aborsi, hingga obat penenang yang tergolong obat keras, semua bisa dijajakan di Pasar Pramuka. Ilegal atau legal, semua dilengkapi label resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Namun berbeda dengan obat-obat “biasa” yang bisa langsung dibeli, vaksin dan obat-obat jenis keras harus dipesan lebih dulu. Jika tak ada pemesan, produk-produk itu tak tersedia.

“Kan pembelinya tidak setiap hari ada. Biasanya bidan pesan, lalu kami (calo) minta ke sales sejumlah yang dipesan, janjian, nego harga, deal,” kata dia.

Bidan temasuk pelanggan tetap obat-obatan di pasar itu, kerap “memborong” obat untuk dijual kembali di apotek atau klinik tempat mereka bekerja.

Hampir semua peralatan medis dan obat-obatan di Pasar Pramuka didapat dari sales, bukan distributor pemasok obat-obatan.

Pembelian vaksin atau obat ilegal dalam jumlah besar sekaligus, menurut calo itu, bukan hal langka di Pasar Pramuka. Ia menyebutnya dengan istilah “proyek,” yakni pemesanan dalam jumlah besar oleh orang “besar.”

Orang “besar” yang ia maksud ialah tenaga medis yang bekerja di rumah sakit atau membuka praktik sendiri.

“Mereka beli (obat) murah ke kami, lalu dijual mahal. Untuk aborsi, vaksin, apapun,” ujarnya.
CNNIndonesia.com mendatangi salah satu apotek di Pasar Pramuka yang menjual perlengkapan medis dan obat-obatan.

Saat ditanya mengenai distributor obat dan peralatan medis di apoteknya, pegawai apotek enggan menjawab. “Dari sales,” katanya singkat.

Pegawai bernama Ina itu mengatakan, apotek tersebut milik pamannya.

Seorang pegawai apotek lainnya di Pasar Pramuka, Tuti, menjelaskan obat-obatan di apotek tempatnya bekerja didapat dari sales yang biasa menjajakan obat ke pasar itu.

“Dari sales, tapi ini obat resmi, ada labelnya,” kata Tuti sambil menunjukkan label di obat yang ia jual.

Ia dan rekan-rekannya sesama pegawai apotek tak banyak bicara ketika ditanya soal dunia medis.

“Rata-rata pekerja di sini yang penting bisa baca dan hitung. Enggak masalah kalau bukan lulusan farmasi,” kata Tuti yang mengenyam pendidikan hingga sekolah menengah pertama.

Apotek-apotek di Pasar Pramuka itu mengaku tak menjual vaksin karena tak banyak pemesannya.

“Biasanya bidan yang beli, makanya kami tidak jual karena tidak banyak juga yang beli,” ujar Tuti.
Calo obat di Pasar Pramuka berkata, jika ada pemesan vaksin, para calo biasa bekerja sama. “Umumnya tiga calo kalau ada proyek vaksin. Satu hubungi sales, satu urusi barang, dan satu hubungi pembeli.”

Salah satu pelanggan yang biasa membeli obat di Pasar Pramuka, Rizal, mengatakan senang dengan harga obat di sana yang bedanya bisa sampai setengah harga.

Harga miring itulah yang menjadikan Pasar Pramuka ramai didatangi pembeli tiap harinya. Bagi pelanggan setia pasar itu, “sehat” jangan sampai mahal. (agk)