Teroris Yono Sayur Tewas Ditembak di Poso

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Jumat, 11/11/2016 10:07 WIB
Teroris Yono Sayur Tewas Ditembak di Poso Penjagaan ketat jenazah pemimpin MIT Santoso, yang tewas tertembak beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kontak tembak Satuan Tugas Tinombala dengan kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur menewaskan satu orang dari pihak teroris, Kamis sore (10/4).

Setelah diidentifikasi, diketahui dia adalah Yono Sayur, salah satu pelaku penembak Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi. Saat itu, Rudy menjabat sebagai Kapolres Poso.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Agus Rianto, Jumat (11/11), mengatakan jenazah diidentifikasi lewat ciri-ciri fisik.


Hasil identifikasi menunjukkan ciri-ciri bentuk muka bulat, rambut keriting dengan tanda khusus berupa dua tato gambar perempuan di bagian punggung.

"Telah ditunjukkan foto wajah dan tato kepada pihak keluarga. Almarhum adalah Suharyono alias Yono Sayur alias Pak Hiban," kata Agus dalam keterangannya.

Agus mengatakan Yono adalah satu dari sepuluh buron teroris anak buah mendiang Santoso yang tersisa.

"Dia adalah kelompok pelaku, pengendara motor yang memboncengkan pelaku penembakan Kapolres Poso tahun 2005 yakni Kapolda Sulteng saat ini," kata Agus.

Kontak tembak tepatnya terjadi pada 14.50 WITA di Parigi. Kejadian bermula dari operasi penyisiran yang dimulai sejak 6.00 WITA di daerah tersebut.

Sekitar pukul 13.00 WITA, tim melihat dua orang tidak dikenal membawa parang yang diduga sedang mencari makanan di kebun warga. Salah satu di antaranya mengenakan topi khas koboi.

"Kemudian tim melakukan tembakan peringatan namun mereka (pelaku) melarikan diri ke arah barat daya, kemudian dilakukan pengejaran," kata Agus.

Sempat terjadi pelemparan bom lontong oleh pelaku terhadap petugas. Akhirnya salah satu pelaku yang belakangan diketahui adalah Yono Sayur tewas diterjang peluru.
Pasukan Brimbob yang diberangkatkan untuk Operasti Tinombala. (ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)Pasukan Brimbob yang diberangkatkan untuk Operasti Tinombala. (ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

Melarikan Diri


Sementara seorang lainnya melarikan diri ke arah Selatan atau Barat Daya. Belum diketahui siapa orang yang gagal ditangkap tersebut.

Barang bukti yang diamankan bersama jenazah di antaranya adalah satu ransel, tiga bom lontong, satu gergaji, satu botol obat, satu terpal, dan satu baju loreng.

Selain itu, ada pula satu sarung yang dibuat menjadi tempat tidur gantung, dua KTP atas nama Habib Zakaria dan Abdul Majid, satu kartu keluarga, dan bahan makanan seperti nasi, beras, juga pepaya.

Karena Medan yang berat, jenazah baru berhasil dievakuasi malam hari dan tiba pada 00.45 WITA di Kepolisian Sektor Sausu. Proses identifikasi dimulai pada 4.15 WITA ketika jenazah tiba di RS Bhayangkara Palu.

Rudy sebelumnya sempat menceritakan pengalaman berhadapan langsung dengan teroris.

Dalam sebuah konferensi pers saat dilantik sebagai Kapolda beberapa waktu lalu dia menunjukkan foto Yono Sayur, sambil bercerita.

Rudi mengatakan pelaku teror itu berboncengan sepeda motor dengan Enal Tau saat menembak dirinya usai menunaikan shalat subuh di Poso pada 2005.

"Yono Sayur ini yang membawa sepeda motor, dan Enal Tau yang menembak saya. Enal Tau sudah tewas tertembak di Aceh beberapa tahun lalu," ujarnya.

Kelompok Santoso memang diyakini bertanggungjawab atas serangankaian serangan pada anggota Kepolisian. Selain itu, mereka juga menebar teror dan membunuh warga yang melawan.

Saat ini, Santoso sudah tewas ditembak petugas. Orang paling berpengaruh yang tersisa di antara kelompok itu adalah Ali Kalora. Walau demikian, polisi menilai dia tidak berpotensi membuat ancaman sebesar pendahulunya. (asa)