Permintaan itu disampaikan anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin saat berkunjung ke Kantor Sekretariat Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Senin (29/5).
Affifuddin melontarkan pendapat itu karena melihat maraknya perkembangan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) beberapa waktu terakhir.
"Sangat relevan untuk kami minta agar tokoh-tokoh agama menyampaikan khotbah-khotbah yang menenangkan. Tokoh agama punya peran untuk meredam hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujar Afifuddin seperti tertulis dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerjasama dalam pengawasan Pilkada dan Pemilu juga diharapkan terjalin antara Bawaslu dan organisasi-organisasi berbasis keagamaan.
Afifuddin mengatakan, Bawaslu menginginkan pengawas independen ikut mengawal pilkada dan pemilu memahami arti kebinekaan.
Sementara itu, Ketua KWI Ignatius Suharyo menyatakan akan melibatkan Bawaslu untuk memperkuat pendidikan dan pengetahuan pengawasan pemilu bagi penganut agama Katolik.
Ia juga menjamin tak akan ada pemimpin agama Katolik yang terlibat dalam politik praktis pada Pilkada dan Pemilu mendatang.
"Jadi tidak akan ada perpecahan umat karena preferensi politik," kata Suharyo.