Fiera mengatakan lebih memikirkan kondisi psikologis kedua anaknya yang berusia 5 dan 9 tahun daripada melaporkan balik FPI ke polisi.
"Keduanya sehat, alhamudulillah. Hanya mereka masih trauma. Sampai saat ini saya masih mau memulihkan psikologisnya," ujar Fiera di kantor YLBHI, Jakarta Pusat, Kamis (1/6).
Dokter Fiera bertugas di RSUD Kota Solok, Sumatera Barat. Dia mendapatkan intimidasi gara-gara statusnya di Facebook terkait persoalan hukum pentolan FPI Rizieq Shihab atas kasus pornografi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus Fiera ini mendapat simpati sejumlah LSM, termasuk Garda Pemuda Ansor yang membantunya keluar dari Kota Solok. Sebab, kata Fiera, sejak kasus itu mencuat ia kerak dituding sebagai biang pembawa masalah.
Tudingan itu bahkan datang dari pimpinan RSUD Kota Solok tempat ia bekerja hingga kepala keamanan di kompleks rumahnya.
Yayasan Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) meminta Pemerintah dan Komnas HAM turun tangan atas semua kejadian intimidasi yang dilakukan sejumlah orang gara-gara unggahan Facebook.
Laporan jaringan relawan kebebasan ekspresi di Asia Tenggara, Safenet, selama kurun waktu Januari hingga Mei 2017, sebanyak 59 orang telah menjadi korban target persekusi atau pemburuan akun yang menghina pemuka agama (ulama) dan agama di media sosial.
Ketua YLBHI Asvinawati mengatakan, fenomena persekusi meningkat setelah kasus penodaan agama Basuki Tjahja Purnama alias Ahok mencuat. Namun kemudian melebar ke masalah lainnya.
Kondisi utamanya, kata dia, intimidasi kelompok tertentu dengan menjadikan pasal penodaan agama dan ujaran kebencian sebagai tameng.
"Tapi semua orang itu, kalau diframing dengan kata tertentu (seperti) hina agama, etnis, dan menghina ulama, maka kemudian ada gelombang yang percaya, bahwa mereka memang menghina tanpa melihat yang lainnya," kata Asvinawati.