Kisah Korban First Travel yang 'Disogok' Batik dan Koper

Bintoro Agung Sugiharto , CNN Indonesia | Sabtu, 12/08/2017 11:33 WIB
Kisah Korban First Travel yang 'Disogok' Batik dan Koper Seorang korban menyatakan dirinya kerap diduga ’disogok’ agar tak protes dengan keberangkatan ke Tanah Suci yang terus diundur oleh First Travel. (Foto: CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah dugaan penipuan agen umrah First Travel makin berkembang. Seorang korban bernama Ayu mengaku dirinya kerap diduga ’disogok’ agar tak protes dengan pengunduran keberangkatannya.

Ayu, jemaah umrah dari Tangerang, mengisahkan pernah menerima batik dari pihak First Travel. Pemberian itu dia terima setelah First Travel mengabari jadwal berangkat yang diundurkan.

"Lalu sebulan sebelum hari H saya dikasih koper," ujar Ayu dalam sebuah diskusi di bilangan Cikini, Sabtu (12/8).

Ayu mendaftar sebagai jemaah umrah di First Travel cabang Depok pada 2015 lalu. Maret di tahun yang sama, ia melunasi tarif untuk empat orang. Ia memilih membayar lunas karena jika bayar mencicil keberangkatannya akan lebih lama. Untuk per orang, Ayu merogoh kocek Rp14,5 juta yang belum termasuk PPn.

Ayu pertama kali dijanjikan berangkat ke Tanah Suci pada Januari 2016. Namun janji itu diingkari dengan alasan kuota penuh.

"Sudah batal berangkat lebih dari tiga kali," imbuhnya.

Berkali-kali datang ke kantor cabang First Travel di Jalan TB Simatupang, Ayu mengaku tak pernah bisa menyampaikan keluhannya. Meski sudah mengantre sejak pagi hingga kantor tutup, ia selalu gagal bertemu pihak manajemen.
Menurut Sodik Mujahid, anggota Komisi VIII DPR RI, perlakuan seperti yang dialami oleh Ayu sudah menjadi pola yang bisa dibaca. Hal itu kerap ditemui di travel lain yang 'abal-abal'.

"Saya sudah ribut ke Kementerian Agama soal travel yang pakai pola ini dari dulu," kata Sodik.

Penelantaran Jemaah

Menurut Sodik, modus pengumpulan semacam ini hanya berujung penelantaran jemaah. Padahal sebelum terjadi penelantaran, modus seperti itu sudah bisa dikategorikan pelanggaran.

Pada kasus ini, Sodik berharap Kemenag bisa berbuat lebih banyak terkait dengan kasus macam yang terjadi pada First Travel. Ia agak kecewa dengan keputusan Kemenag yang terlambat sehingga jemaah yang gagal berangkat begitu banyak.