Politikus PDIP Hargai Vonis Buni Yani Meski Keadilan Terusik

Abi Sarwanto , CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 07:04 WIB
Politikus PDIP Hargai Vonis Buni Yani Meski Keadilan Terusik Meski menilai ada rasa keadilan yang terusik, Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno meminta semua pihak menghargai vonis hakim PN Bandung terhadap Buni Yani. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menghargai putusan Majelis Hakim Bandung yang memvonis Buni Yani dengan hukuman satu tahun enam bulan.

"Kita hargai putusan tersebut, meski kita juga memahami bila ada rasa keadilan yang terusik," ujar Hendrawan saat dihubungi wartawan, Selasa (14/11).


Menurut Hendrawan, putusan itu mengesankan untuk pemanipulasi dan perekayasa, penyebar ujaran kebencian serta pemicu kebangkitan politik suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), hanya diberi hukuman ringan.

"Sementara yang terbukti telah bekerja keras, menjadi korban kepicikan Sengkuni, justru lebih berdosa dan menderita," ujarnya tanpa merinci siapa yang dimaksud.

Meski demikian, Hendrawan mengimbau kepada semua pihak, termasuk mereka yang kontra untuk menerima putusan hakim tersebut.

Putusan itu, kata dia, dapat dijadikan sebagai pelajaran kolektif bahwa keadilan masih belum menjiwai sistem peradilan di Indonesia.

"Kalau diteruskan kasusnya akan menimbulkan kegaduhan, yang dikhawatirkan hanya melayani dahaga politik mereka yang berjualan isu SARA," kata Hendrawan.


Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meminta semua pihak tidak memperdebatkan vonis 1,5 tahun penjara terhadap Buni Yani dalam kasus ujaran kebencian.

Menurutnya, hal itu perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya polemik baru di tengah masyarakat.

Pada Selasa (14/11), majelis hakim PN Bandung menjatuhkan vonis penjara satu tahun dan enam bulan penjara terhadap Buni Yani. Vonis itu lebih rendah dari tuntutan jaksa yakni dua tahun penjara.

Buni dinilai menyebarkan ujaran kebencian dengan menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian terhadap masyarakat bernuansa SARA melalui unggahannya di Facebook.

Ia mengunggah video Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat berpidato di Kepulauan Seribu, beberapa waktu lalu. Dalam pidatonya Ahok menyinggung Surat Al Maidah ayat 51. Sementara dalam unggahan Buni Yani, Jaksa Penuntut Umum menyebut mantan dosen itu telah menghilangkan atau memotong sebagian video tersebut. (kid)
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Vonis Buni Yani