Kuasa Hukum Setnov Minta Dua Pekan Susun Nota Keberatan

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Rabu, 13/12/2017 21:53 WIB
Kuasa Hukum Setnov Minta Dua Pekan Susun Nota Keberatan Kuasa Hukum Setya Novanto, Maqdir Ismail meminta majelis hakim memberikan waktu dua pekan kepada kuasa hukum untuk menyusun eksepsi, tapi permintaan itu ditolak hakim. ( CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terdakwa korupsi proyek e-KTP Setya Novanto meminta waktu sekitar dua pekan untuk mengajukan eksepsi atau nota keberatan atas surat dakwaan jaksa penuntut umum.

Kuasa hukum Setnov, Maqdir Ismail, menilai terdapat sejumlah fakta yang hilang bahkan ditambahkan dalam surat dakwaan.

"Kami akan mengajukan eksepsi. Kalau boleh dua minggu, karena begitu banyak fakta yang berbeda sehingga kami perlu waktu lama untuk melihat,” ujar Maqdir di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12).


Namun, majelis hakim tidak mengabulkan permintaan kuasa hukum Setnov. Hakim hanya memberikan waktu satu minggu ke depan bagi tim kuasa hukum untuk menyusun eksepsi.
Maqdir mengatakan, dalam eksepsi pihaknya akan menjelaskan sejumlah nama anggota DPR yang hilang. Pasalnya, dalam surat dakwaan terdakwa e-KTP lainnya, Irman dan Sugiharto, terdapat sejumlah nama anggota DPR yang disebut menerima jatah proyek e-KTP.

Perbedaan juga terdapat pada perbuatan Gamawan Fauzi yang disebut menerima US$4,5 juta dan Rp50 juta pada dakwaan sebelumnya.

Sementara dalam dakwaan Setnov, kata Maqdir, Gamawan hanya disebut menerima satu ruko di daerah Kebayoran.

Maqdir juga akan menyinggung soal pembayaran konsorsium yang didakwakan pada Setnov dalam eksepsi. Menurutnya, pembayaran konsorsium ini bukan menjadi kewenangan Setnov.

Sementara itu, jaksa Irene Putri menegaskan pada surat dakwaan Setnov pihaknya memang fokus pada seluruh rangkaian perbuatan mantan ketua fraksi Golkar itu dalam proyek e-KTP.

"Jadi memang rangkaian perbuatan Setnov itu yang akan kami fokuskan," ucapnya.

Ia berharap kondisi kesehatan Setnov membaik pada persidangan selanjutnya. Irene menyatakan akan selalu menyiagakan dokter untuk memeriksa Setnov selama proses persidangan.

"Dari awal kami mengantisipasi apakah sakit yang benar atau tidak kami mengantisipasinya dengan dokter," tuturnya.
(ugo/asa)