Puan Klaim Sudah Antisipasi Wabah di Asmat Sejak September

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 17/01/2018 06:48 WIB
Puan Klaim Sudah Antisipasi Wabah di Asmat Sejak September Menko PMK Puan Maharani, 2017. Dia mengaku sudah mengantisipasi wabah campak dan kekurangan gizi di Asmat, Papua, sejak September 2017. (Foto: CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani mengungkapkan, Pemerintah sudah mengantisipasi wabah campak dan gizi buruk yang melanda anak-anak suku Asmat, Papua, sejak September 2017.

Namun, penanganan di lapangan terhalang oleh kondisi geografis dan koordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.

“Seperti diketahui, letak geografis semua kabupaten di sana itu tidak mudah untuk dijangkau. Kami sudah mengantisipasi ini sejak September,” kata Puan ditemui di kantornya, Selasa (16/1).


Puan juga mengaku bahwa koordinasi dengan Pemda setempat juga kurang optimal. Dia berharap Pemda ikut membantu menyalurkan bantuan tersebut mengingat hanya mereka yang paham kondisi geografis lokasi tersebut.

“Kami sudah mengantisipasi tapi kami butuh sinergi dari Pemda. Tentunya Pemda lebih paham terkait kondisi di daerah. Pemerintah pusat akan bersinergi menyelesaikan dan mengantisipasi hal-hal yang terjadi seperti itu,” jelas dia.

Baru-baru ini, kata dia, Kementerian Kesehatan dibantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyalurkan obat campak dan tambahan makanan bagi anak-anak dan ibu hamil. Kemenkes, katanya, akan mengawasi penyaluran tersebut.

“Saya minta ke Menteri Kesehatan untuk monitoring terus dan analisis apa saja yang harus dilakukan,” cetusnya.

Melalui keterangan tertulisnya, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihaknya sudah mengirim sebanyak 16.000 paket makanan kaleng senilai Rp725 juta ke Timika, Papua, Minggu (14/1).

Paket itu sudah didistribusikan secara bertahap sejak Senin (15/01) kepada masyarakat terdampak wabah di Kabupaten Asmat, Papua.

"Paket lauk pauk A,B,C,D telah dikirimkan bersama tim Kemensos ke Asmat. Jumlah tersebut bisa ditambah sewaktu-waktu sesuai kondisi di lapangan," ujar Khofifah, dikutip dari Antara.

Selain makanan kaleng, lanjut dia, Kementerian Sosial bersama Dinas Sosial setempat juga telah mengirimkan bantuan logistik berupa tiga ton beras, 200 lembar selimut, 200 matras, dua tenda keluarga, dan 50 food ware.

"Sebagai langkah awal, bantuan pangan diupayakan dari wilayah yang berbatasan dengan Asmat. Tim juga membawa makanan berupa umbi-umbian," imbuh Khofifah.

Sebelumnya, campak dan gizi buruk melanda anak-anak suku Asmat, Papua. Dalam empat bulan terakhir, ada 24 anak yang meninggal dunia.

Data Kemenkes per 13 Januari 2018 menyebut, penderita campak yang dirawat di RS Agats tercatat berjumlah 22 pasien. Sebanyak 16 pasien tengah menjalani rawat jalan, sementara 6 orang lainnya masih dirawat.

Presiden Joko Widodo telah meminta Pemda Papua untuk fokus dan bekerja cepat menangani campak dan gizi buruk yang kembali melanda anak-anak suku Asmat di Papua.

“Seharusnya Pemda juga terus melihat karena ini daerah Asmat, di Nduga, itu memang sering kejadian penyakit seperti itu. Pemda yang selalu mantau dan mengelilingi terus daerah-daerah ini,” ujar Jokowi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (14/1). (arh/arh)