Oscar Ferry
FCBarcelona sampai mati. Percaya Lionel Messi dari planet lain. Penyuka angka 21. Pendaki gunung. Pernah berkarir di beberapa media online nasional, dan kini di CNNIndonesia.com

Novel, Apa yang Kamu Lakukan ke Koruptor itu 'Jahat'

Oscar Ferry, CNN Indonesia | Rabu, 28/02/2018 10:18 WIB
Novel, Apa yang Kamu Lakukan ke Koruptor itu 'Jahat' Ilustrasi penyidik KPK Novel Baswedan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apa persamaan putus cinta, sakit gigi, dan tersandung kasus korupsi di KPK? Jawabannya sama-sama bikin pusing kepala.

Saya yakin tak ada yang mau mengalami satu dari tiga hal tersebut, atau bahkan mengalami tiga-tiganya sekaligus. Kalau tiga hal itu dialami dalam waktu bersamaan, waduh mungkin lebih dari sekadar pusing.

Cerita-cerita kasus korupsi yang membuat pusing pelakunya sudah terjadi sejak KPK memulai kiprahnya pada 2003. KPK di masa kepemimpinan Taufiqurachman Ruki cs itu memerangi korupsi dari nol.



KPK pun kian unjuk gigi pada 2008, ketika Antasari Azhar menduduki tampuk pimpinan. Sayang kiprah Antasari di KPK cuma sebentar karena terjerat kasus hukum pembunuhan. Saat itu kasus Antasari disebut-sebut bernuansa politis yang sudah dirancang sedemikian rupa.

Namun, KPK makin menunjukkan taringnya di bawah kendali Busyro Muqqodas pada sekitar 2010-2011, yang berlanjut dengan duet Abraham Samad-Bambang Widjojanto pada 2012. Pada medio itu, banyak kasus diungkap KPK. Banyak penyelenggara negara 'disikat'.

Pada titik ini, selain banyaknya pelaku korupsi yang dijerat, muncul juga nama Novel Baswedan. Mantan polisi yang menjadi penyidik KPK itu menjadi 'tokoh utama' dalam upaya memberantas korupsi.

Novel diketahui berperan hampir semua penanganan kasus, baik pengembangan penyelidikan maupun operasi tangkap tangan. Tanpa pandang bulu Novel memimpin 'pembabatan' kasus korupsi.


Novel Dianggap Jahat

Keberanian Novel dan KPK bukan tanpa risiko. Keduanya sejak itu mulai dianggap 'jahat' oleh banyak pihak. Sebab pemberantasan korupsi tanpa tebang pilih dianggap banyak tak memikirkan dampaknya, baik secara politik, ekonomi, hingga kekuasaan.

Alhasil, Novel dan KPK mulai mendapat teror. Khusus Novel, sudah tak terhitung berapa kali sejak 2012 dia mendapat ancaman sampai bahkan dengan kemunculan kasus lamanya sewaktu masih jadi polisi di Polda Bengkulu.


Ini berkaitan dengan dugaan kekerasan terhadap pelaku pencurian sarang burung walet pada 2005.

Pengungkitan kasus tersebut berbarengan dengan penanganan kasus korupsi pengadaan Simulator SIM yang menjerat Kepala Korlantas Polri saat itu, Irjen Djoko Susilo. Tapi dengan dukungan banyak pihak, Novel selamat.

Setelah itu Novel 'tak kapok'. Peran tokoh utama tetap dia lakoni. Sekali lagi, peran utama ini menimbulkan masalah. Khususnya di internal KPK.

Novel 'hanya' penyidik di KPK. Dia sama dengan penyidik-penyidik lain di KPK yang tentu berada di bawah naungan Direktur Penyidikan. Namun karena peran utamanya itu, banyak pihak menganggap Novel sebagai direktur penyidikan sesungguhnya.

Novel, Apa yang Kamu Lakukan ke Koruptor itu Jahat (EMBG)Novel Baswedan mendapatkan pengawalan di kediamannya. (CNN Indonesia/Tutiek Apriyanti)

Sebelah Mata

Usai karir Abraham Samad dan Bambang Widjojanto selesai, KPK punya punya pimpinan baru, baik pelaksana tugas maupun definitif. Taufiqurachman Ruki cs didapuk menjadi Plt pada 2015, setelah itu Agus Rahardjo dkk menjadi pimpinan definitif setelah lolos seleksi dari pansel dan DPR.

Jalan cerita KPK di bawah Agus Rahardjo cs tak berubah. Novel masih menjadi tokoh utama. Dia masih menjadi 'Direktur Penyidikan'. Beragam kasus besar dia pimpin penanganannya. Misalnya kasus dugaan korupsi e-KTP, salah satu kasus besar peninggalan pimpinan-pimpinan KPK terdahulu.

Di tengah upaya menangani kasus e-KTP, Novel kembali mendapat teror. Kali ini lebih nyata dan mengerikan. Dia diserang oleh orang tak dikenal di sekitar rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017. Para pelaku yang ditengarai dua orang dan mengendarai motor itu menyiramkan air keras ke wajah Novel yang baru selesai salat Subuh.


Akibat kejadian itu, mata Novel terluka. Novel tak bisa melihat, khususnya yang sebelah kiri. Sepupu Gubernur DKI Anies Baswedan itu pun langsung menjalani perawatan di Singapura dan menjalani operasi.

Di satu sisi, polisi melakukan pengusutan. Terutama dalam mencari para pelaku penyerangan. Selama 10 bulan pengusutan, kasus itu masih gelap. Belum ada titik terang selain sketsa wajah yang sudah didapat kepolisian.

Novel, Apa yang Kamu Lakukan ke Koruptor itu Jahat (EMBG)Sejumlah pihak mempertanyakan penanganan kasus penyerangan terhadap Novel. (CNN Indonesia/Andry Novelino)


Di sisi lain, banyak pihak mendesak pemerintah agar membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Mereka menganggap polisi tak bekerja maksimal. Mereka menilai TGPF lebih independen dan transparan dalam mengungkap karena diduga ada 'orang besar' di balik penyerangan terhadap Novel tersebut.

Tepat 10 bulan perawatan di Singapura, Novel kembali. Kepulangan si tokoh utama pun disambut meriah oleh KPK, mulai dari pimpinan, eks pimpinan, sampai segenap pegawai KPK.

Tapi kepulangan Novel bukan bertugas kembali. Novel ingin beristirahat dulu dari perannya sebagai tokoh utama pemberantas korupsi sambil menunggu operasi tahap kedua pada April 2018 mendatang. Operasi itu diharapkan dapat menyembuhkan kedua mata Novel seperti sedia kala.


Novel sampai kini masih menggunakan sebelah mata untuk melihat. Mata kirinya tak bisa melihat apa pun, sementara yang kanan bisa melihat meski berkabut. Dia juga belum tahu kapan akan kembali memainkan perannya sebagai 'tokoh utama'.

Novel pun menyatakan tak takut ancaman apapun. Apa yang menerpanya merupakan risiko sebagai tokoh utama di KPK siapa pun pimpinannya.

Menarik ditunggu, apakah ketika sudah dinyatakan sembuh, Novel dan KPK-dengan siapa pun pimpinannya-ke depan akan tetap 'jahat' dan tanpa tebang pilih memberantas korupsi?

Meniru sedikit kalimat yang dilontarkan Dian Sastro dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2: "Novel, yang kamu lakukan ke koruptor itu, 'jahat'." (asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS