Menurutnya, tanggal yang diperingati sebagai Hari Bhayangkara tersebut merupakan hari di mana Polri dipisahkan dari Kementerian Dalam Negeri.
"1 Juli 1946 bukan hari lahirnya Polri. 1 Juli yang setiap hari kita peringati Hari Bhayangkara adalah ketika Polri, Kepolisian Republik Indonesia, dipisahkan dari Kementerian Dalam Negeri menjadi kementerian tersendiri. Tapi lahirnya Polri sendiri sudah lebih dulu dari 1 Juli 1946," kata Tito saat memberikan amanat dalam upacara HUT ke-73 Brigade Mobil (Brimob) Polri di Hanggar Gegana, Markas Korps Brimob, Depok, Jawa Bara pada Rabu (14/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Brimob saat itu satu-satunya pasukan yang memiliki kemampuan terlatih dan persenjataan terlengkap karena merupakan pasukan dari zaman Jepang," ucapnya.
"Pengamanan harus dilakukan hingga pascapenghitungan," kata Tito.
Tito pun meminta agar kekuatan Brimob termasuk di wilayah untuk siap siaga menghadapi kondisi kritis. Dia menerangkan, kondisi darurat bukan hanya akibat konflik saat pergelaran politik tetapi juga bencana alam yang akan mempengaruhi jalannya agenda politik.
Mantan Kapolda Metro Jaya itu juga meminta jajarannya di Brimob dan satuan untuk terus bersikap displin. Dia mengingatkan, Polri diarahkan menjaga polisi yang bernuansa sipil dan dekat dengan masyarakat sejak dipisahkan dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 2000 silam.
"Meskipun berwarna paramiliter Brimob membawa nuansa sipil yaitu mendekatkan diri kepada masyarakat," tandas Tito.
(mts/arh)