Polisi Bakal 'Sikat' Buron Pembunuhan Taksi Online Palembang

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 23:02 WIB
Polisi Bakal 'Sikat' Buron Pembunuhan Taksi Online Palembang Gelar perkara pembunuhan dan perampokan taksi online di Palembang (CNNIndonesia.com/ Hafidz Trijatnika)
Palembang, CNN Indonesia -- Satu dari empat tersangka perampokan disertai pembunuhan sopir taksi online Sofyan (43), warga Palembang, Sumatra Selatan masih buron. Polisi masih melacak keberadaan Akbar (31) yang merupakan otak dari perampokan ini.

"Satu lagi, Akbar, masih dalam pencarian. Mudah-mudahan dia tidak menyerahkan diri supaya bisa kita sikat beneran," ujar Kapolda Sumsel Inspektur Jenderal Zulkarnain Adinegara, Jumat (23/11).

Kata 'sikat' yang dikatakan oleh kapolda merujuk kepada tembak mati yang sering dilontarkannya sejak menjabat sebagai Kapolda Sumsel. Jajaran Polda Sumsel sudah menembak mati belasan pelaku kejahatan yang menyebabkan tewasnya korban sejak awal 2018 ini.


Dirinya pun mengungkapkan, berdasarkan keterangan dari tiga tersangka lain yang sudah ditangkap, Akbar sudah lima kali merencanakan merampok sebelum mengeksekusi Sofyan, namun selalu gagal.

"Dia lima kali merencanakan merampok, bahkan sempat merencanakan merampok orang tua angkatnya si Akbar. Lalu juga sempat berencana merampok sopir travel. Terus ada juga mau merampok sopir taksi online tapi gak jadi karena sopir bawa teman yang badannya gede. Jadi ini sudah direncakanan. Akbar terdeteksi masih di Sumsel. Biarin saja dia lari kan, supaya kita sikat," ujar Kapolda.

Kapolda memastikan dalam persidangan nanti, pihak penyidik akan menghadirkan fakta-fakta yang memberatkan para tersangka karena sudah secara sadis menghilangkan nyawa korban.

"Keluarga mendesak minta para tersangka dihukum mati. Kita pastikan dihukum berat, tapi bukan balas dendam, apalagi kepada tersangka Frans yang masih muda 16 tahun. Namun kita pastikan ada efek jera biar yang lain tidak (mengikuti)," ujar dia.

Saat gelar perkara di Mapolda Sumsel, Jumat (23/11), hadir para tersangka Acundra (21) dan Franata Ariwibowo (16) dan keluarga korban termasuk ayah korban, Kiagus Abdul Roni (66).

Caci maki terhadap kedua tersangka yang terlontar dari keluarga korban tak terbendung. Kontak fisik antar keluarga korban dan tersangka pun hampir terjadi namun dilerai oleh para penyidik Subdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel. "Kejam nian kalian. Dak pantas kau hidup, dak katek (tidak punya) hati," kata Kiagus.
Kiagus Abdul Roni, ayah korban (CNNIndonesia.com/ Hafidz Trijatnika)


Sambil menangis, Kiagus menunjuk wajah kedua tersangka. Dia mengingat nasib keempat cucunya yang ditinggal mati secara tragis oleh ayah mereka.

"Pokoknyo nyawo dibayar nyawo. Kau lebih kejam dari binatang. Aku minta kau dihukum mati," teriak Kiagus seraya berkaca-kaca.

Dalam kasus ini, Polda Sumsel telah meringkus tiga tersangka, yakni Ridwan (45), Franata Ariwibowo (16) dan Acundra (21). Diberitakan sebelumnya, mayat Sofyan ditemukan di areal perkebunan sawit di Desa Lakitan, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas, Sumsel dengan kondisi tingal tulang belulang, 12 November 2018.

Sofyan dilaporkan hilang oleh istrinya ke Polda Sumsel sejak 29 Oktober 2018, 14 hari sebelum akhirnya ditemukan. Sofyan dihabisi oleh empat penumpangnya di dalam mobilnya sendiri dengan cara dicekik dan diinjak-injak di bagian kepala. (idz) (idz/eks)