Kekalahan ini menyusul kasus penodaan agama yang menyeretnya. Lagi-lagi, semuanya bermula dari mulut. Pada 27 September 2016, Ahok sempat menyinggung ayat Alquran soal kepemimpinan saat menjelaskan program pembibitan ikan di depan warga Kepulauan Seribu.
"Jadi, enggak usah berpikiran, 'Ah nanti kalau enggak kepilih pasti Ahok programnya bubar'. Enggak, saya masih sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat Al-Maidah 51 macam-macam itu. Itu hak bapak ibu. Jadi, kalau bapak ibu merasa enggak bisa pilih nih, kalau enggak nanti saya masuk neraka karena dibodohi. Enggak apa-apa. Karena ini panggilan pribadi bapak ibu. Program ini (budidaya ikan) jalan saja," tutur Ahok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan ribu peserta aksi gerakan 212 berkumpul di sektar Monas, Jakarta, menentang kasus penodaan agama oleh Ahok, Jumat, 2 Desember 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Akhirnya pada 16 Oktober 2016, kepolisian menetapkan Ahok sebagai tersangka penodaan agama. Lalu pada pada 9 Mei 2017, Pengadilan Negeri Jakarta Utara memutus Ahok bersalah melanggar Pasal 156a KUHP tentang penodaan agama. Ia divonis dua tahun. Rumah Tahanan Mako Brimob jadi tempat Ahok menjalani hari-harinya.
"Semoga Tuhan memberikan kita damai sejahtera dan keadilan. Salam BTP. Catatan, panggil saya BTP," ucap Ahok dalam sebuah surat yang dibacakan putranya, Nicholas Sean Purnama, 16 Agustus 2018.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham 'Lulung' Lunggana pun berpesan kepada Ahok agar menjaga mulutnya usai bebas dari penjara.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
Dan, bersiaplah kembali dengan kontroversi mulut Ahok berikutnya. (arh/dhf/sur)
Ratusan ribu peserta aksi gerakan 212 berkumpul di sektar Monas, Jakarta, menentang kasus penodaan agama oleh Ahok, Jumat, 2 Desember 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Foto: CNN Indonesia/Fajrian![Petualangan Ahok, Antara Kontroversi dan Pre [LIPSUS]](https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2014/09/10/2b512987-764a-4955-8f53-190ea23d68c0.jpg?a=1)
Warga Jakarta mengenakan topeng Ahok mendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam isu dugaan korupsi di DPRD DKI, 2015. (Safir Makki)
Pasangan Gubernur-Wakil Gubernur DKI hasil Pilkada 2012, Jokowi-Ahok. (AFP PHOTO / BAY ISMOYO)