Napi Tanjung Gusta Atur 72 Kg Sabu Malaysia dari Penjara

CNN Indonesia | Jumat, 25/01/2019 01:56 WIB
Napi Tanjung Gusta Atur 72 Kg Sabu Malaysia dari Penjara Ilustrasi paket narkoba. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai Belawan berhasil mengamankan sekitar 100 kilogram (kg) narkotika yang dikendalikan Ramli, narapidana (napi) Lapas Tanjung Gusta Medan. Ramli merekrut keluarganya untuk menyeludupkan barang haram itu dari Malaysia ke Indonesia.

"Totalnya ada berkisar 100 kilogram narkotika yang disita. Itu dikendalikan oleh satu sindikat yaitu Ramli yang merupakan napi yang menjalani hukuman penjara seumur hidup di Lapas Tanjung Gusta Medan," kata Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari, Kamis (24/1).

Arman menyebutkan penangkapan pertama dilakukan pada Selasa (15/1) lalu. Saat itu, petugas BNN dan Bea Cukai melakukan patroli bersama di Laut Aceh. Petugas yang telah melakukan penyelidikan lantas menangkap Kapal Motor (KM) Karibia di Perairan Lhoksukon, Aceh Utara. 


"Kapal kayu ini memuat sabu-sabu 72 kg dan 10 ribu butir pil ekstasi," jelasnya.

Dalam pengungkapan itu, petugas menangkap lima orang tersangka, yaitu Ramli bin Arbi, Saiful Bahri, M. Zubir, M. Zakir, dan Metaliana. Kelima tersangka itu memiliki hubungan keluarga yaitu, orang tua, anak, dan menantu.


Ketika petugas BNN RI dan Bea Cukai menangkap KM Karibia bermuatan narkotika, ternyata dalam tempo bersamaan, kapal kecil jaringan Ramli juga berlayar mengangkut berkisar 25 kg sabu-sabu. Bahkan, barang haram ini nyaris lolos dari intaian petugas. Sebab 25 kg sabu-sabu yang diangkut kapal kecil itu telah berada di daratan.

"Saat itu, kita fokus pada tangkapan besar yang dibawa dengan KM Karabia. Padahal ada kapal kecil yang juga berlayar membawa 25 kg narkotika," sambung Arman. 

BNN melakukan pengembangan hingga Kamis (24/1), seorang tersangka bernama Syaifinur alias Pan ditangkap di Pasar Gruegok, Biruen, Aceh. Dari tangan tersangka, BNN menyita 25 kg sabu. Barang haram itu disimpan tersangka di dalam mobil dan rumahnya serta akan didistribusikan ke Medan dan wilayah Sumut lainnya.

Dalam melancarkan aksinya, kata Arman, jaringan Ramli menggunakan komunikasi satelit. Sebab sinyal yang ada di laut terutama di perbatasan laut Indonesia dan Malaysia selalu payah sinyal. BNN juga akan mendalami terkait komunikasi yang digunakan Ramli di dalam Lapas.

"Komunikasi satelit ini digunakan jaringan Ramli pada saat hendak menjemput atau mengantar barang haram itu ke laut. Komunikasi satelit tersebut sangat mudah untuk menentukan lokasi transaksi. Banyak cara mereka untuk mengelabui petugas bahkan mereka bisa menggunakan komunikasi di dalam," bebernya.

(fnr/DAL)