Suara Para 'Dedengkot' Golput Melihat Kabinet Baru Jokowi

CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 07:43 WIB
Konsolidasi Kekuatan Pemodal, Tentara, dan Polisi di Kabinet Prabowo Subianto (kiri) menjadi sorotan kalangan golput lantaran bergabung dalam kabinet baru Presiden Jokowi(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Konsolidasi Kekuatan Pemodal, Tentara, dan Polisi di Kabinet

Kalangan yang selama ini memutuskan golput cenderung memiliki pendapat yang sama. Mereka pada umumnya tidak kaget maupun heran. 

Haris Azhar


Direktur Kantor Hukum dan HAM Haris Azhar, yang selama ini vokal dan tidak sungkan memproklamirkan dirinya golput, menyoroti soal penunjukan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan. Diketahui, Prabowo merupakan rival kental Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019 lalu, namun dipilih menjadi menteri dan partainya tidak menjadi oposisi. Tak seperti 2014 lalu.

Menurut Haris, sebenarnya tidak sulit menerima kenyataan ketika Jokowi dan Prabowo sama-sama mau bekerja sama dalam pemerintahan meski sebelumnya bertarung sebagai rival di Pilpres 2019. Dia bicara demikian karena menganggap Jokowi dan Prabowo adalah tipikal orang yang sama.


"Karena mereka memang satu tipe, sama-sama tidak punya karakter untuk pemenuhan hak konstitusional. Dan, sama sama membohongi rakyat dan para pendukungnya masing-masing saat pemilu," tuturnya.

Haris juga menyinggung kembali pernyataan Franz Magnis Suseno yang menghakimi golput sebagai orang yang mengalami psychofreak. Romo Magnis menyatakan itu melalui artikel di harian Kompas saat tahapan Pilpres 2019 masih berlangsung.

Haris menganggap Romo Magnis bicara demikian kala itu agar kalangan golput memilih Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019. Akan tetapi, kini ternyata Jokowi mengangkat Prabowo sebagai Menteri Pertahanan. Haris lantas bertanya-tanya.

"Golput dibilang Psychofreak jika tidak memilih, dengan kata lain, didorong memilih Jokowi. Apa sebutkan yang pas untuk orang yang mengangkat Prabowo menjadi Menteri? Romo Magnis ditunggu jawabannya," imbuh mantan Koordinator KontraS tersebut.
Direktur kantor hukum dan HAM Lokataru Haris Azhar Direktur kantor hukum dan HAM Lokataru Haris Azhar menganggap Jokowi dan Prabowo adalah dua sosok yang memiliki kesamaan, yakni kerap membohongi masyarakat. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta)
Lini Zurlia

Aktivis perempuan Lini Zurlia, yang diketahui kerap diolok-olok di Twitter lantaran menyuarakan golput, menganggap susunan kabinet baru sebagai konsolidasi kekuatan yang sudah direncanakan dengan baik. Dia yakin menteri dipilih atas pertimbangan Jokowi selama 1-2 hari saja.

"Kabinet ini adalah benar kabinet konsolidasi kekuatan antara kekuatan pemodal, polisi yang saat ini super power juga tentara, kekuatan oligarki," ucapnya.

Lini tidak kaget dengan menteri-menteri yang dipilih Jokowi. Termasuk ketika Prabowo didapuk sebagai Menteri Pertahanan meski sebelumnya bertarung di Pilpres 2019 melawan Jokowi. Dia menganggap wajar itu terjadi karena keduanya bagian dari kelompok yang sama.

"Dalam kekuasaan oligarki tidak ada musuh yang abadi, sebab yang abadi adalah kekuasaan dan kepentingan," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Bilven Sandalista

Bilven, yang merupakan pegiat literasi dan aktif menyindir politikus lewat Twitter, menganggap komposisi kabinet baru Jokowi mengecewakan pendukung fanatik Jokowi mau pun Prabowo. Menurutnya, pendukung masing-masing capres di Pilpres 2019 itu juga pasti kaget.

Tetapi tidak dengan kalangan yang memutuskan untuk tidak memilih alias golput.

"Karena ini membuktikan salah satu tesis kenapa memilih golput: sesungguhnya tidak ada perbedaan signifikan antara 01 dan 02," tuturnya.

Bilven menyinggung Gerindra pengusung Prabowo Subianto kemudian masuk dalam koalisi pemerintahan Presiden Jokowi. Dia lalu mengaitkannya dengan kenyataan tentang Pemilu dan Pilpres 2019 yang telah menghabiskan dana triliunan Rupiah, ditambah ratusan anggota KPPS yang meninggal dunia.

"Semuanya menjadi insignifikan dengan saling berpelukannya kedua junjungan sambil berbagi kekuasaan," ucap Bilven.
(bmw/bmw)
HALAMAN :
1 2