Potret Kemiskinan Warga Tepi Kali Cipinang Korban Banjir

CNN Indonesia | Kamis, 27/02/2020 08:47 WIB
Potret Kemiskinan Warga Tepi Kali Cipinang Korban Banjir Warga Jakarta yang tinggal di bantaran kali selalu merasa nyawanya terancam ketika banjir datang (CNN Indonesia/Melani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Siang itu langit mendung. Pukul 12.00 WIB, Rabu (26/2), Agus keluar rumah menuju posko pengungsian banjir. Dia membawa semua pakaiannya ke pengungsian. Selain untuk dipakai, semua pakaian dibawanya agar tidak terendam jika banjir datang lagi.

"Biarin aja, takutnya banjir lagi nanti kotor lagi," katanya saat ditemui CNNIndonesia.com di sekitar wilayah Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (26/2).

Agus tinggal di Kampung Sawah, Cipinang tepat di dekat Kali Cipinang. Rumahnya dua meter di atas kali. Hanya ditopang beberapa kayu agar dapat berdiri tegak. Bangunan rumah Agus terdiri dari beberapa triplek, termasuk lantai rumahnya.


Tembok hanya ada di beberapa bagian rumah. Itu pun tanpa polesan warna cat. Pula sudah terkikis oleh air sungai. Sebagian besar bagian rumah adalah triplek.

Ada dua jendela mungil untuk ventilasi udara. Satu menghadap sungai dan satu lainnya menghadap jalan kecil. 

Saat masuk ke rumah Agus, lantai kayunya lembab dan berlumpur. Harus sangat hati-hati dalam melangkah agar lantai tidak roboh. 

"Kalau banjir, kadang rumah kayak ikut keangkat," katanya.

Dari rumah Agus terdengar jelas suara aliran sungai. Jika meluap, rumah Agus sudah pasti yang pertama terkepung air. Di samping rumahnya, Agus sengaja menanam beberapa pohon bambu untuk menghalau luapan air. 

Rumah seluas enam meter persegi tersebut dihuni oleh empat orang, yaitu Agus, Purnasih (45) istri Agus, Rizal (23), anak pertama dan Talita, anak bungsu Agus yang berusia empat tahun.
Potret Kemiskinan Warga Tepi Kali Cipinang Korban BanjirAgus, warga yang tinggal di pinggir Kali Cipinang. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

Jika banjir, ia dan istrinya segera menyelamatkan dua barang elektronik miliknya: TV dan penanak nasi. Selain itu kompor gas juga selalu diselamatkan.

"Langsung selametin TV penanak nasi, tapi kemarin enggak sempet, karena banjirnya langsung satu meter," kata Purnasih atau Asih.
Asih biasa berdagang nasi uduk di depan jembatan yang berjarak lima meter dari rumahnya. Dari berjualan, ia bisa menyisihkan Rp30 ribu sehari.

Dari nominal itu, Rp10 ribu ia tabung. Kemudian Rp20 ribu sisanya diberikan kepada Talita, anak bungsunya juga untuk ditabung.

"Rizal alhamdulilah sudah kerja, jadi bisa bantu dikit-dikit," katanya.

Hanya ada satu kamar tidur, satu dapur dan satu kamar mandi di rumah mereka. Keempatnya tidur bersama dalam satu ruangan. Kadang kala, Agus, merasa bersalah karena tidak mampu memberikan kehidupan yang baik untuk istri dan anaknya.

"Saya sering minta maaf ke istri karena hidup miskin begini, kadang setiap malam nangis," kata Agus.

Lelaki berusia 50 tahun itu dulu sempat bekerja sebagai tukang ojek pengkolan. Namun ia berhenti sejak kemunculan ojek online.

Keterbatasan ekonomi membuat Agus dan keluarganya harus menghadapi banjir setiap hujan deras turun. Ia tidak memiliki cukup biaya untuk membeli rumah yang lebih layak.

Banjir terparah yang pernah dialami Agus yakni pada awal tahun 2020 lalu. Saat itu, kata Agus, ketinggian air mencapai dua meter lebih, hampir menenggelamkan atap rumah.

"Waktu banjir tahun baru, kita sudah pasrah sama hidup, banjirnya setinggi leher saya, alhamdulilah masih diberi selamat sekeluarga," ujar Agus, matanya menitikkan air mata. 

Agus sudah tinggal di Kampung Sawah, Cipinang sejak lahir pada 1967. Sejak tinggal di sana, baru banjir awal tahun 2020 yang membuatnya hampir menyerah dengan hidup. 

"Memang sejak tahun 2002 suka banjir, tapi awal tahun kemarin benar-benar bikin saya mau menyerah, untung sempat lihat anak-istri, masih bisa bertahan," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Agus tak mau pindah ke rumah susun. Sebab, ia bingung mencari penghasilan jika pindah ke rumah susun. Ada biaya sewa yang harus dibayar, sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah kesulitan.

Agus lebih berharap pemerintah mencegah Kali Cipinang meluap hingga mengakibatkan banjir. Menurutnya, perlu ada langkah baru agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban banjir.

Agus takut banjir terjadi setiap bulan. Jika demikian, maka rumahnya bisa terbawa hanyut aliran Kali Cipinang karena saking seringnya terendam air sehingga membuat rumah menjadi rapuh. Agus tak punya tempat tinggal selain rumah triplek tersebut.

"Pemerintah semoga punya cara untuk mencegah banjir, itu saja doa kami," katanya.

Banjir melanda sejumlah wilayah di DKI Jakarta pada Selasa lalu (25/2). Tak sedikit rumah dan jalan yang terendam.

Fasilitas umum banyak yang lumpuh karena tak bisa beroperasi. Ribuan warga juga meninggalkan rumahnya dan tinggal di posko pengungsian.
(mln/bmw)