Menurut dia, program tersebut lebih menguntungkan pihak penyedia atau mitra kerja dibandingkan peserta. Ia pun menyoroti harga yang harus dibayar pemerintah terhadap mitra prakerja untuk setiap peserta pada setiap kelas.
"Jadi, ini salah satu dasar yang membuat kami menyimpulkan atau menilai bahwa pelatihan prakerja dengan mekanisme pelatihan webinar berbayar itu tidak efektif dan efisien secara penggunaan anggarannya," kata Almas dalam diskusi secara daring, Jakarta, Senin (27/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan pelatihan webinar, selain mereka bisa mendapatkan dari forum-forum belajar yang gratis, mereka juga harus mengeluarkan uang untuk kuota internet. Saya enggak tahu untuk ikut 3-5 kali pelatihan seharga Rp200 ribu itu mereka punya enggak kuota internet," ucapnya.
"Memberikan bantuan sosial kepada publik terdampak, lansia, penyandang disabilitas, yang PHK, atau yang kantornya terpaksa ditutup. Kemudian dialokasikan untuk pemenuhan alat kesehatan bagi tenaga medis," ucap dia.
Lihat juga:Pendaftar Kartu Prakerja Tembus 8 Juta Orang |
Sebelumnya, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad juga menilai mekanisme pelatihan program kartu prakerja justru tidak efektif dan menimbulkan pemborosan bagi anggaran negara.
Ujungnya, ia melihat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditujukan untuk membantu masyarakat di tengah pandemi corona hanya masuk ke 'dompet' ekosistem start up.
"Kalau dilihat pelatihan online ini tidak efektif, juga tidak pas dengan kebutuhan keterampilan saat ini. Jadi lucu, padahal ini penting dan anggarannya besar sekali sampai Rp5,6 triliun," ungkap Tauhid kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/4). (ryn/osc)