Target Tes Spesimen Corona Pemerintah Belum Capai Standar WHO

CNN Indonesia | Kamis, 06/08/2020 08:09 WIB
Target Presiden Jokowi mengenai tes virus corona 30 ribu per hari belum tercapai. Hanya berhasil dilakukan pada 29 dan 30 Juli. Target Presiden Jokowi mengenai tes virus corona 30 ribu per hari hanya berhasil dilakukan dalam dua hari (Muchlis - Biro Setpres)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertengahan Juli lalu, Presiden Joko Widodo menargetkan uji spesimen atau tes spesimen virus corona (Covid-19) mencapai 30 ribu per hari. Target ini meningkat dari sebelumnya yakni 20 ribu per hari.

Namun sejak ditargetkan Jokowi pada pertengahan Juli, rata-rata pengujian spesimen hanya berada di angka belasan ribu. Target itu baru terpenuhi pada uji spesimen pada tanggal 29 dan 30 Juli 2020. Pada 29 Juli target uji spesimen mencapai 30.261. Sedangkan, pada 30 Juli, jumlah spesimen yang diperiksa memang kembali mencapai target sebesar 30.046 dari 14.976 orang yang diperiksa. Hasilnya terdapat 1.904 kasus positif.

Meski sempat mencapai target Jokowi, rata-rata jumlah uji spesimen selama sepekan terakhir yakni 30 Juli-5 Agustus hanya berkisar 22 ribu.


Sebagai catatan, jumlah orang yang dites dengan pengujian spesimen berbeda karena satu orang dapat diuji spesimennya beberapa kali.

Uji spesimen itu kemudian berkurang pada 31 Juli menjadi 28.562 dari 10.536 orang yang diperiksa dengan temuan 2.040 kasus positif.

Jumlah pengujian semakin anjlok pada 1 Agustus yakni 11.190 spesimen. Dari jumlah tersebut, terdapat 1.560 kasus positif. Penurunan ini disebut terjadi karena lab yang libur pada hari Minggu dan libur panjang perayaan Iduladha.

Namun pemeriksaan uji spesimen kembali meningkat pada 2 Agustus sebanyak 20.032 dari 6.458 orang yang diperiksa dengan 1.519 kasus positif. Jumlahnya kembali turun pada 3 Agustus yakni 14.728 dari 12.179 orang yang diperiksa dengan 1.679 kasus positif.

Pada 4 Agustus, pemeriksaan uji spesimen kembali bertambah menjadi 22.902 dari 13.456 orang yang diperiksa dengan 1.922 kasus positif. Sementara terbaru pada 5 Agustus, jumlah spesimen yang diperiksa hampir kembali mencapai target yakni 28.738 dari 14.722 orang yang diperiksa dengan 1.815 kasus positif.

Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Windhu Purnomo mengatakan,target  angka pengujian spesimen ini masih belum tercapai jauh di bawah target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sesuai target WHO, suatu negara semestinya mampu melakukan testing 1.000 per 1 juta penduduk per minggu.

Apabila menggunakan asumsi jumlah penduduk Indonesia 260 juta jiwa, maka dibutuhkan tes Covid-19 sebanyak 260 ribu per minggu. Dengan demikian, target tes per hari berada di kisaran angka 37 ribu.

"Tapi testing sekarang rata-rata hanya 13 ribu sampai 14 ribu per hari. Masih kurang tiga kali lipat dari target testing yang seharusnya," ucap Windhu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (5/8).

Selain itu, tes yang dilakukan juga belum sepenuhnya dilakukan untuk kasus baru melainkan juga pemeriksaan lanjutan pasien yang sudah positif. Akibatnya pelaksanaan tes menjadi tak maksimal.

Berdasarkan data 5 Agustus 2020, jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi positif di Indonesia mencapai 116.871 kasus. Sementara total kumulatif pengujian adalah 1.603.781 spesimen sejak 1 April 2020 yang diperoleh dari 922.709 orang.

Dari data tersebut, positivity rate Covid-19 berada di angka 12,7 persen. Positivity rate adalah rasio kasus positif (116.871) dengan jumlah orang yang diperiksa (922.709). Jumlah ini masih jauh dari standar WHO sebesar 5 persen.

Windhu mengatakan, positivity rate Covid-19 di Indonesia terbilang tinggi lantaran jumlah tes yang masih sedikit. Menurutnya, positivity rate bisa ditekan apabila jumlah tes semakin banyak.

Pasalnya, dengan jumlah tes saat ini, orang yang diutamakan menjalani pengujian spesimen adalah mereka yang berada dalam kondisi suspek Covid-19. Sementara jika kapasitas diperbanyak, maka tes dapat dilakukan pula bagi orang-orang tanpa gejala yang memiliki risiko minim Covid-19.

"Sekarang positivity rate tinggi karena sebagian besar suspek yang dites itu positif. Tapi kalau kemampuan tes bisa dinaikkan dan bisa diperluas ke orang tanpa gejala, kemungkinan positivity rate turun karena risiko terinfeksi positif lebih kecil," jelasnya.

Jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang menjadi negara dengan kasus tertinggi di dunia, terdapat 4,9 juta kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Dikutip dari Worldometer, situs yang menyediakan penghitungan data Covid-19, AS mampu melakukan tes sebesar 61,7 juta dari jumlah penduduk sebesar 331 juta jiwa.

Sementara Korea Selatan yang dianggap berhasil menangani Covid-19 tercatat mampu melakukan tes sebanyak 1,6 juta dari jumlah penduduk 51,3 juta.

Korsel yang sempat menjadi episentrum Covid-19 ini memiliki kasus terinfeksi positif jauh lebih sedikit ketimbang Indonesia yakni 14.456 kasus.

Berkaca dari hal tersebut, Windhu menuturkan, Jokowi seharusnya memprioritaskan penambahan kapasitas tes alih-alih berkutat dengan persoalan ekonomi. Upaya tes adalah salah satu indikator untuk penting untuk menentukan pengendalian Covid-19 di suatu negara.

Windhu menekankan, upaya itu juga harus dibarengi dengan tracing atau pelacakan dan treatment berupa isolasi. Dengan memperbanyak tes, kata dia, maka jumlah kasus akan semakin terdeteksi.

"Testing harus dibarengi juga dengan tracing. Tujuannya untuk isolasi. Jadi kalau ketahuan ya isolasi agar rantai penularan putus," ucap Windhu.

Selain melalui tes, indikator lain untuk mengendalikan persebaran Covid-19 adalah mengukur tingkat penularan atau Rt dengan target kurva epidemi di bawah 1.

Windhu mengatakan, penghitungan Rt didasarkan pada gejala pertama yang dirasakan dalam kasus pasien terinfeksi Covid-19. Hanya saja belum semua provinsi di Indonesia memiliki data tersebut.

"Jadi dihitung dari kasus per hari berdasarkan gejala pertama merasakan Covid-19. Kalau bisa diturunkan minimal dua minggu secara konsisten, pengendalian kasus juga akan berjalan baik," ucapnya.

(psp/bmw/ugo)

[Gambas:Video CNN]