Sengit Debat Pilkada Depok, Gerindra-PKS Pecah Kongsi

CNN Indonesia | Minggu, 22/11/2020 20:28 WIB
Dalam pilkada sebelumnya, Gerindra dan PKS berkoalisi. Kini, mereka bertarung dan berdebat sengit di Pilkada Depok 2020. Wali Kota Depok M. Idris (kedua dari kiri) dan Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna (tengah) berpisah jalan. Keduanya bertarung memperebutkan kursi wali kota Depok selanjutnya lewat Pilkada 2020 (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia --

Debat Pilkada Kota Depok berlangsung sengit antara Mohammad Idris-Imam Budi Hartono versus Pradi Supriatna-Afifah Alia. Kedua paslon saling menyerang dan saling membantah satu sama lain.

Diketahui, saat ini Idris masih menjabat wali kota Depok dan Pradi menjabat sebagai wakil wali kota Depok. Keduanya pecah kongsi dan tak mau berpasangan lagi, hingga kemudian saling bertarung di Pilkada Depok 2020. Gerindra dan PKS, yang dulu berkoalisi, kini saling bertarung.

Serangan dimulai sejak sesi penajaman visi-misi. Paslon Pradi Supriatna-Afifah Alia mendapat pertanyaan soal pembangunan Kota Depok yang menumpuk di Jalan Margonda.


Pradi-Afifah setuju dengan pernyataan panelis. Mereka menyalahkan Pemkot Depok yang selama ini dipimpin Idris lantaran dinilai tidak bisa meratakan pembangunan meski telah memerintah Depok selama 15 tahun.

"Pusat ekonomi hanya ada di Margonda. Ini diakibatkan Pemerintah Kota Depok tidak berhasil membangun jalan-jalan di sekitarnya. Tidak ada pelebaran jalan di arah Sawangan, di arah Tapos," kata Afifah memantik perdebatan.

Pernyataan Afifah dijawab oleh Idris-Imam. Idris menyampaikan pembangunan di Depok sudah merata. Ia mengklaim bakal melanjutkan keberhasilan pembangunan jika kembali terpilih.

Bantahan Idris dibubuhi bumbu cibiran oleh Imam. Politikus PKS itu menyebut Pradi-Afifah tak melihat realita Depok saat ini.

"Paslon nomor 1 belum jalan-jalan ke Depok. Bojong Sari sudah ramai, Cinere sudah ramai, jadi tidak Margonda-sentris saja," tutur Imam.

Pradi kemudian menyerang Idris. Menurutnya, peta jalan pemerataan pembangunan Depok sudah ada sejak 2003. Sebagai Wakil Wali Kota Depok, Pradi juga sudah mengingatkan Idris soal dokumen itu.

"Sudah saya sampaikan ke Pak Idris, tapi nampaknya usulan saya dicoret oleh beliau. Ini persoalan buat kita," ucap Pradi kepada rekannya di Balai Kota Depok.

Walikota Depok Mohammad Idris. CNN Indonesia/Andry NovelinoWali Kota Depok Mohammad Idris kini melawan wakilnya, yakni Pradi Supriatna di Pilkada Kota Depok 2020 (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Saling Klaim Prestasi

Pada sesi berikutnya, Pradi-Afifah mendapat pertanyaan dari moderator soal ketidakmampuan Depok mengelola kemacetan. Ia kembali menyalahkan Idris karena tak menjalin hubungan kerja sama dengan daerah sekitar guna membenahi lalu lintas.

Idris pun tak tinggal diam. Ia memaparkan sederet kerja sama Depok dengan daerah tetangga ihwal transportasi. Tak lupa, sang Wali Kota pun pamer prestasi Depok di bidang transportasi.

"Wahana Tata Nugraha 2019 atas penilaian kinerja penyelenggaraan sistem transportasi perkotaan. Terakhir kami penghargaan dari Polda, Road Safety Partnership Action," ucap Idris menjawab kritik Pradi.

Pradi langsung mengambil celah dari pernyataan Idris. Ia mengklaim balik prestasi yang diukir Depok dalam hal penataan transportasi.

"Kebetulan yang ekspos (Wahana Tata Nugraha 2019) saya di Kementerian Perhubungan, bersama kepolisian. Saya dengan Dishub Kota Depok rencana dini. Hasilnya luar biasa, kita dapatkan angka 100 tanpa cacat," kata politikus Gerindra itu.

Sindiran Mantan Kolega

Pada sesi debat terbuka, Idris melayangkan pertanyaan istilah strategis kepada Pradi. Idris bertanya bagaimana Pradi menyukseskan amanat pemerintah pusat dalam program "100-0-100".

Saat menjawab, Pradi enggan menjelaskan istilah itu. Menurutnya, Idris terlalu banyak memakai istilah rumit yang tidak dimengerti masyarakat.

"Istilah-istilah yang tidak dipahami masyarakat. Fakta di lapangan, persoalan berbagi kewenangan dan sebagainya, katanya friendly city, tapi harus kita evaluasi lagi," kata Pradi.

Melihat Pradi menunjukkan gelagat tak paham, Idris langsung menyerang balik. Idris menjelaskan "100-0-100" memiliki arti 100 persen air bersih, 0 persen wilayah kumuh, dan 100 persen sanitasi.

"Pimpinan daerah, apakah wali kota, wakil wali kota, sekda, siapapun, istilah strategis ini, apalagi amanat pemerintah pusat harus kita pahami. Apalagi ini sangat populer," cibir Idris.

Pradi Supriatna Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna tak mau lagi bersama dengan Wali Kota Mohammad Idris. Kini keduanya bertarung di Pilkada 2020 (Detikcom/Faisal)

Bansos Covid-19

Adu sindiran juga berlangsung pengujung debat. Dalam sesi debat terbuka, Pradi melontarkan pertanyaan soal langkah Pemkot Depok di bawah Idris dalam merespons pandemi Covid-19.

Idris menjawab dengan menyebut pandemi masalah dunia. Depok telah ambil bagian dengan membentuk kampung siaga berbasis RW untuk mendisiplinkan masyarakat. Ia akan melanjutkan upaya itu di periode kedua jika terpilih.

"Covid-19 masalah bukan instan, tapi sudah kita lakukan sejak awal bagaimana peraturan-peraturan, ketentuan-ketentuan, surat edaran, peraturan wali kota forkopimda, termasuk anggaran," ujar Idris.

Pradi merespons jawaban Idris dengan menuding ada ketidakadilan dalam penyaluran bantuan sosial. Ia mengaku menemukan warga yang berhak, tapi tak mendapat bantuan dari Pemkot.

"Terus terang di masyarakat tidak semuanya bisa mendapatkan bansos yang memang dibutuhkan sekali," tuturnya. "Kami akan pastikan yang terdampak akan dapat bantuan, minimal Rp500 ribu per KK," imbuh Pradi.

(dhf/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK