Dua Siswa Covid, Sekolah Tatap Muka di Gunungkidul Dihentikan

CNN Indonesia | Kamis, 26/11/2020 20:52 WIB
Dua siswa di salah satu SDN di Gunungkidul, Yogyakarta terkonfirmasi positif virus corona setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Ilustrasi. Ujki coba sekolah tatap muka. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak dua siswa di salah satu Sekolah Dasar (SD) Negeri di Kecamatan Patuk, Kabupaten GunungkidulDaerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkonfirmasi Covid-19, setelah menjalani Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty membenarkan temuan kasus di lingkungan sekolah tersebut. Pihaknya menduga kedua siswa tertular dari guru yang sebelumnya terkonfirmasi positif Covid-19.

"Jadi guru siswa ini tinggalnya di luar Gunungkidul, kemudian menularkan pada dua murid ini. Setelah di-tracing, tidak ada tambahan positif. Tapi sekarang tracing masih berlanjut di wilayah rumahnya juga. Jadi tidak hanya di sekolah saja," jelas Dewi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/11).


Dewi menyebutkan, lebih dari 28 orang telah menjalani pelacakan kontak atau tracing, baik siswa maupun para guru.

Menurutnya, KBM tatap muka yang dilakukan di sejumlah sekolah itu mengacu para Peraturan Bupati (Perbup) Gunungkidul No. 68 Tahun 2020. Namun demikian, sebenarnya belum banyak sekolah yang melakukan pembelajaran di kelas.

"Di sekolah ini mungkin ada protokol kesehatan yang terlewati sehingga terjadi penularan itu," ia menduga.

Dinkes telah merekomendasikan agar KBM tatap muka di sekolah-sekolah di Gunungkidul dihentikan sementara waktu.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Bahron Rasyid mengaku telah berkoordinasi dengan Dinkes kabupaten usai ditemukan kasus penghuni sekolah terpapar virus corona.

"Sekarang di sekolah itu tidak ada lagi pertemuan tatap muka meski hanya sebentar. Guru-gurunya juga sudah Work from Home (WfH)," tutur Bahron.

Ia pun menjelaskan, KBM yang digelar sejumlah sekolah di Gunungkidul bukan KBM normal. Mengingat, para siswa hanya melakukan tatap muka 1-2 kali dalam sepekan, dengan durasi sekitar 2 jam per sesi untuk sekadar mengumpulkan tugas.

"Itu pun kapasitasnya hanya separuh. Misalnya 20 anak, sesi pertama 10 anak dari jam 7-9 pagi. Kemudian sesi selanjutnya 10 orang, mulai jam 10 pagi-12 siang," papar dia lagi.

Infografis Tiga Ancaman Beruntun Covid-19 di Akhir 2020Infografis Tiga Ancaman Beruntun Covid-19 di Akhir 2020. (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)

Bahron menuturkan tidak hanya lingkungan sekolah yang terpapar Covid-19 yang kegiatan belajar tatap mukanya dihentikan sementara melainkan seluruh sekolah di wilayah Gunungkidul.

Meskipun bagi sekolah yang tidak terpapar corona, para guru harus tetap masuk kerja.

"Kami masih menunggu perkembangan lebih lanjut kondisi eskalasi Covid-19 yang akan datang," tegas dia.

Langkah tersebut diambil, lanjut Bahron, guna mengantisipasi munculnya klaster baru dari dunia pendidikan di wilayah Gunungkidul.

(sut/nma/NMA)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK