Dilema Dokter ICU di Antara Antrean Pasien Covid yang Kritis

CNN Indonesia | Kamis, 28/01/2021 08:57 WIB
Keterbatasan ruang ICU membuat dokter Amelia RSUD Kota Depok, kerap dihadapkan pada pilihan pasien Covid-19 mana yang harus didulukan mendapat perawatan. (AFP/PRAKASH SINGH)

Amelia sendiri yakin tak sembarang dokter bisa melakukan intubasi. Ia menyebut hal teknis tersebut sangat riskan dilakukan, baik untuk dokter yang berpotensi terpapar Covid-19 sangat besar, dan pasien yang berpotensi memburuk dan meninggal bila salah instalasi ventilator.

Pasien harus diberikan obat bius yang sesuai dan dokter yang melakukan intubasi harus memasang alat bantu napas dengan segera. Bila terlalu lama, pasien yang dalam kondisi tidak sadar akan kekurangan oksigen sehingga pemasangan ventilator jadi tak maksimal.

"Kita selalu minta izin [intubasi] karena mungkin itu komunikasi terakhir kita pada pasien, dan pasien mungkin hari terakhir, kita juga tidak ada yang tahu," katanya.


Kendati terbatasnya akses kesehatan dan pengobatan pasien, Amelia menegaskan pihaknya tetap merawat antrean pasien ICU di ruangan IGD. Idealnya menurut Amelia pasien dengan kondisi itu harus dirujuk ke RS lain.

Sebagaimana diketahui, kondisi keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) ruang ICU telah penuh di mana-mana. Sehingga mau tak mau, pihaknya harus berjibaku memastikan kondisi pasien dalam keadaan prima meski harus berjejal di ruangan IGD, yang normalnya hanya untuk perawatan maksimal 6 jam saja.

"Situasi memang tidak seperti dulu, IGD sangat-sangat penuh, kita ingin memberikan yang maksimal pun tidak bisa," ujarnya.

RSUD Kota Depok, yang merupakan fasilitas kesehatan tipe C, telah berupaya terus menambah kapasitas perawatan. Di awal pandemi bahkan mereka tidak memiliki ruang ICU dan isolasi bertekanan negatif. Kini, RSUD Kota Depok mampu menampung enam pasien ICU dan dua pasien ICU di ruang tekanan negatif.

Sebanyak 13 ruang isolasi bertekanan negatif pun siaga untuk merawat pasien covid-19 dengan kondisi memberat, dan kurang lebih 100 tempat tidur difungsikan untuk isolasi pasien Covid-19 dengan gejala sedang.

"Teman-teman saya yang bekerja di IGD memang mengatakan angka kematian jauh meningkat. Kalau saya masih ingat sekitar bulan Juli-Agustus 2020, kematian hanya 10 orang dari April-Agustus itu. Kalau sekarang saya tidak tahu lagi mungkin lebih banyak," kata Amelia.

Amelia miris dengan orang yang masih meragukan eksistensi virus tak kasat mata ini. Ia juga sempat sedih kala orang-orang menyalahkan tenaga medis yang telah berjibaku merawat pasien Covid-19.

Menurutnya, perlu menyelesaikan permasalahan di hulu. Selain upaya testing, tracing, treatment (3T) oleh pemerintah, masyarakat juga harus disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Intervensi di hilir dengan hanya mengepel lantai basah tanpa menambal atap yang bocor pun percuma. Kasus Covid-19 di tanah air adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, pun bukan hanya ihwal masyarakat saja.

"Membangun ICU juga tidak mudah, banyak high cost, kemudian tidak mudah dan sangat perlu orang. Untuk melakukan intubasi saja harus paling kompeten. Kalau mereka sakit siapa lagi yang merawat," ujarnya.

(khr/fra)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK