Peran Soeharto dan Sultan HB IX dalam Serangan Umum 1 Maret

CNN Indonesia | Senin, 01/03/2021 16:28 WIB
Sejarawan menilai Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang memiliki ide serangan umum, sementara Soeharto hanya komandan lapangan. Setiap 1 Maret diperingat sebagai hari Serangan Umum yang dilakukan TNI saat mengusir Belanda dari Yogyakarta pada 1949 (Andreas Fitri Atmoko)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Republik Indonesia. Letkol Soeharto (yang kemudian menjadi presiden) dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX serta prajurit dan laskar berperan penting dalam peristiwa tersebut.

Di mata dunia, Serangan Umum 1 Maret juga membuka mata negara-negara lain bahwa Indonesia masih ada dan mampu mengusir tentara Belanda. Padahal, kala itu Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dan tokoh lainnya tengah ditahan oleh Belanda di luar Jawa.

Agresi Militer Belanda

Mulanya, Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 ke sejumlah wilayah Jawa dan Sumatera. Jenderal Spoor memimpin operasi penyerangan.


Belanda melakukan itu lantaran masih tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Belanda juga tidak menghormati hasil Perjanjian Renville yang mana Yogyakarta merupakan wilayah Republik Indonesia.

Yogyakarta termasuk daerah yang diserbu mengingat saat itu menjadi pusat pemerintahan atau ibu kota Republik Indonesia.

Belanda kemudian menduduki Yogyakarta sejak tanggal 19 Desember 1948. Mereka menangkap dan mengasingkan sejumlah pimpinan negara Republik Indonesia. Hanya tinggal tentara dan laskar yang berjuang di pedalaman.

Serangan Umum

Pasca agresi militer II belanda, Indonesia yang masih terbilang 'muda' saat itu berada dalam keadaan terpojok. Belanda menyebarkan berita bohong melalui PBB kepada seluruh dunia bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada dan TNI sudah hancur.

Di Yogyakarta yang menjadi pusat negara saat itu, terdapat penjagaan ketat Belanda di mana-mana. Kediaman Sultan Hamengkubuwono IX turut dijaga ketat karena ia menjadi tahanan rumah.

Meski demikian, ia tetap berperan penting dalam komunikasi antara satuan-satuan Indonesia yang ada di dalam dan luar kota.

Pada Januari 1949, Sultan HB IX mendengar siaran di radio bahwa pada awal Maret akan ada rapat Dewan Keamanan PBB. Salah satu topik yang dibahas adalah persoalan Indonesia dan Belanda.

General Sudirman upon arrival in Jakarta. Other information According to the copyright law in effect in Indonesia at the time of the URAA, copyright on this image expired on 1 January 1971 (25 years after publication). Jenderal Sudirman setuju dengan usulan Sri Sultan Hamengkubuwono IX ihwal serangan umum pada 1 Maret untuk mengusir Belanda dari Yogyakarta (Wikimedia/Maks Stirlitz)

Pada awal Februari, Sultan kemudian bersurat kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman agar mengadakan Serangan Umum pada siang hari. Usulan tersebut diterima. Jenderal Sudirman meminta Sultan melakukan koordinasi dengan Komandan WK III yaitu Letkol Soeharto.

Sultan kemudian menjalin komunikasi dengan Soeharto secara rahasia melalui kurir. Letkol Soeharto lalu berkoordinasi dengan jajaran TNI di wilayahnya. Ia memerintahkan agar setiap komandan wilayah menempatkan pasukan di dalam kota Yogyakarta secara sembunyi-sembunyi sejak malam hari.

Hal ini membuat mereka telah dalam keadaan siap menyerang begitu sirine pergantian jam malam pada pukul 06.00 1 Maret 1949.

Setelah dilancarkan, Serangan Umum ini berhasil menaklukkan kedudukan belanda dalam waktu 6 jam. Dalam Serangan Umum ini, pasukan Indonesia tidak hanya terdiri dari TNI. Sejumlah laskar dan rakyat biasa juga turut ambil bagian.

Berita Serangan Umum 1 Maret tersebut kemudian menyebar secara berantai di berbagai negara hingga akhirnya terdengar PBB.

Perjuangan berdarah itu berhasil membantah berita berita bohong yang disebarkan Belanda bahwa sebenarnya Indonesia masih ada dan TNI belum hancur. Di dalam negeri, moral perjuangan militer dan sipil juga kembali menguat.

Peran Soeharto-Hamengkubuwono IX

Salah satu yang menjadi sorotan dalam sejarah Serangan Umum 1 Maret adalah perdebatan mengenai siapa yang lebih berperan antara Letkol Soeharto dan Sultan HB IX.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Restu Gunawan mengatakan baik Soeharto maupun Sultan HB IX sama-sama memiliki peran yang besar.

Sultan HB IX, kata restu, memiliki sumbangan besar, salah satunya, berupa ide melakukan Serangan Umum 1 Maret. Serangan Umum ini dilakukan sebagai bentuk pemberitahuan kepada dunia bahwa Indonesia belum hancur dan TNI masih ada.

"Ide brilian dari Hamengkubuwono IX itu harus diakui cukup besar (perannya)," kata restu saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (1/3).

Hilang Peran Hamengkubuwono IX dalam Film Janur Kuning

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK