ANALISIS

Bom Waktu Covid di Luar Jawa-Bali Saat 3T dan Prokes Lemah

CNN Indonesia | Rabu, 28/07/2021 15:55 WIB
Sejumlah daerah di luar Jawa dan Bali berpotensi mengalami lonjakan kasus Covid-19. Lemahnya 3T oleh pemerintah dan disiplin prokes jadi persoalan. Petugas kesehatan mengambil sampel lendir warga saat tes usap (swab test) drive-thru di Jalan Jendral Sudirman Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (24/6/2020). (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah daerah di luar Pulau Jawa dan Bali berpotensi mengalami lonjakan kasus Covid-19. Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mewanti-wanti beberapa daerah di antaranya Kalimantan Selatan, Palembang, dan Jambi.

Teruntuk Kalimantan Selatan, data pada Selasa (27/7) menunjukkan ada 517 orang yang terinfeksi virus corona (Covid-19). Banjarmasin menjadi penyumbang terbanyak dengan 120 kasus. Diikuti Banjarbaru dengan 71 kasus dan Tapin 57 kasus.

Dari 517 kasus, terdapat 372 orang dinyatakan sembuh dan 20 meninggal dunia.


Ahli Epidemiologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Husaini mengungkapkan kenaikan kasus Covid-19 disebabkan karena permasalahan dalam penanganan 3T yakni tracing (pelacakan), testing (pemeriksaan), dan treatment (penanganan) kasus. Ia meminta pemerintah maupun Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 untuk memperbaikinya.

Menurut dia, pelacakan kontak erat di Kalimantan Selatan hanya satu orang per satu kasus positif Covid-19 (1:1). Jauh dari standar organisasi kesehatan dunia (WHO) yang menyebutkan pelacakan kontak erat 1:30.

"Testing tidak sepenuhnya berbasis pada hasil pelacakan kasus. Itu diketahui bahwa tracing di Kalimantan Selatan dalam 1 bulan ini angkanya di bawah satu. Padahal, minimal menurut WHO 1 positif berbanding 30 yang dilacak atau tracing. Testing yang banyak yang tidak bersumber dari hasil pelacakan kasus itu tanda tanya," ujar Husaini saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (28/7).

Ia berujar permasalahan tersebut berdampak buruk terhadap kondisi di mana seseorang bisa menjadi pembawa virus dan penularan terus terjadi tanpa terdeteksi.

Sementara itu, Husaini mengatakan positivity rate dalam satu bulan terakhir di Kalimantan Selatan berada di angka 25-30 persen.

"Minggu terakhir ini angkanya 30 persen positivity rate, padahal WHO hanya boleh maksimum 5 persen. Sangat tinggi. Itu yang menyebabkan dalam sebulan ini kasus di Kalimantan Selatan meningkat. Kapasitas respons dari Pemda khususnya Satgas dalam pelaksanaan 3T jauh dari kapasitasnya," imbuhnya.

Faktor lain yang menyebabkan kenaikan kasus adalah kedisiplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan yang masih rendah. Mengutip laporan Satgas Covid-19, ia menuturkan bahwa Kalimantan Selatan termasuk kategori 20 provinsi dengan ketidakpatuhan masyarakat akan protokol kesehatan.

Oleh karena itu, ia menyinggung pentingnya sinergitas antara Satgas Covid-19 dengan sejumlah elemen masyarakat seperti tokoh agama dan organisasi profesi.

"Pengamatan saya, dari Satgas dan masyarakat umum sinergitas kurang mencukupi. Misal, kurang banyak merangkul tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, organisasi profesi, elemen masyarakat, kurang cukup, tidak memadai. Padahal, fungsinya sebagai penyambung lidah dari Satgas," tutur Husaini.

Infografis Kematian Covid-19 Melonjak saat PPKM DaruratInfografis Kematian Covid-19 Melonjak saat PPKM Darurat. (CNN Indonesia/Asfahan Yahsyi)

Kebijakan Tak Efektif Cegah Penularan Covid-19

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK