"Padaha,l setelah menjadi juara Olimpiade, saya makin merasakan beban makin berat," ucap Susi. "Namun dari beban itulah saya terdorong untuk terus bisa menjaga performa saya."
Setelah berjuang babak demi babak, ternyata final Kejuaraan Dunia 1993 menghadirkan ulangan Final Olimpiade Barcelona 1992.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang mirip. Mungkin karena saya ini memang sebetulnya pemain yang bertipe mesin diesel yang lambat panas. Setelah kalah di gim pertama, permainan saya memang menjadi lebih baik di gim kedua," kata Susi.
"Namun yang jelas dari segi ketahanan fisik, saya memang lebih baik dari Bang Soo-Hyun," tutur Susi menambahkan.
Susi pun akhirnya sukses mewujudkan ambisinya untuk menjadi juara dunia.
"Namun saya belum berpuas diri. Saya masih ingin mengukir banyak prestasi saat itu," kata Susi.