Pemain asal Ghana tersebut berkata bahwa ia menerima ejekan berupa suara monyet ketika bermain di laga pertama Liga Rusia pada Jumat (17/7). Merespons aksi tersebut, Frimpong mengacungkan jari tengah sehingga ia diusir wasit dan kemudian mendapat hukuman larangan bertanding dua laga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Otoritas di sini harus melakukan lebih jauh lagi untuk menghentikannya," kata Boychenko, kepada Unit Anti Diskriminasi Kantor Urusan Hak Asasi Manusia PBB.
Dalam sesi jumpa wartawan tersebut, Boychenko mengatakan bahwa ia percaya otoritas sepak bola mulai mengenali adanya isu rasialisme.
"Saya percaya sebentar lagi hal itu akan diakui," katanya. "Ini masalah prilaku dan juga masalah masyarakat. Di Rusia, tidak ada pemahaman yang jernih tentang rasialisme."
"Ini bukan sekadar soal hitam dan putih dan putih dan hitam saja; ini isu soal etnis, agama, afiliasi, budaya, bahasa, dan lainnya."
Lebih dari 200 aksi rasialisme dilakukan penggemar sepak bola di seluruh Rusia pada periode 2012 hingga 2014.
Direktur Eksekutif Sepak Bola Melawan Rasialisme di Eropa, Piara Power, mengatakan bahwa tim dari Afrika bisa menolak untuk bertanding di Piala Dunia jika mereka mendapatkan cemoohan dalam satu pertandingan.
Asosiasi sepak bola Ghana (GFA) telah mengeluarkan kemarahan atas insiden Frimpong tersebut dengan menyatakan bahwa sang pemain telah menerima ejekan "keji". (vws)