Ulang Tahun Arema, Klub Galatama yang Pernah Merana

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Selasa, 11/08/2020 15:10 WIB
Arema yang malang melintang di kancah sepak bola nasional sudah berusia 33 dan memiliki sejarah yang naik turun. Arema FC menjadi salah satu kontestan Liga 1 2020. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj)
Jakarta, CNN Indonesia --

Arema FC adalah sebuah klub sepak bola profesional asal Kota Malang, Jawa Timur, yang berdiri sejak 11 Agustus 1987. Dulunya, Arema dikenal sebagai Arema Malang dengan julukan Tim Singo Edan.

Nama klub yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan dan Stadion Gajayana, Malang ini diambil dari nama seorang legenda di Malang bernama Patih Kebo Arema yang di masa Kerajaan Singosari diperintah seorang raja bernama Raja Kertanegara.

Arema FC lahir jauh setelah Persema Malang didirikan. Lahirnya Arema dicetuskan Acub Zaenal, mantan Gubernur Irian Jaya yang juga mantan pengurus PSSI periode 80-an yang kala itu punya andil menelurkan pemikiran membentuk klub Galatama di Kota Malang.


Dalam seminar keolahragaan yang dibuat kala itu merekomendasikan kelayakan Kota Malang untuk memiliki sebuah klub Galatama yang profesional. Berdirinya Arema tidak lepas dari peran besar Derek, pemilih klub lokal Aremada '86 yang membuat awal nama Arema yakni Aremada, yaitu gabungan dari Armada dan Arema.

Masalah keuangan membuat Acub Zaenal kemudian mengambil alih Arema '86 dan namanya berubah menjadi Arema Malang serta ditetapkan pula sebagai klub peserta Galatama.

Arema juga disebut sebagai akronim dari Arek Malang yang merupakan komunitas asal Malang yang kemudian ditafsirkan menjadi sebuah komunitas suporter bernama Aremania.

Banner Live Streaming MotoGP 2020

Sepanjang sejarahnya, Arema menjadi klub yang tercatat sudah lima kali berganti nama dan logo. Dimulai dengan nama PS Arema Malang pada tahun 1987 sampai 1995, kemudian berubah menjadi PS Arema Bentoel (1995-2009), Arema Indonesia FC (2009-2013), Arema Cronus FC (2013-2016) dan terakhir Arema FC sejak 2017 sampai sekarang.

Di awal keikutsertaan di Kompetisi Galatama, Arema menjadi klub yang merana dan terus menerus terbelit masalah masalah. Terutama soal dana.

Dari sisi prestasi, pasang surut sudah dialami Arema sejak di Galatama meskipun tak pernah menghuni papan bawah klasemen, Arema tak pernah konstan di jajaran papan atas kala itu.

Sampai pada tahun 1992 ketika diperkuat Aji Santoso, Mecky Tata, Singgih Pitono, Jamrawi dkk dengan pelatih M. Basri, Arema berhasil menjuarai kompetisi Galatama. Itu jadi kali pertama Arema mampu mewujudkan mimpi masyarakat Kota Malang menjadi juara kompetisi elite di Indonesia.

[Gambas:Video CNN]

Sejak mengikuti Liga Indonesia, Arema tercatat sudah tujuh kali masuk putaran kedua. Sekali ke babak 12 besar (1996/1997) dan enam kali masuk 8 besar (1999/2000, 2001, 2002, 2005, 2006 dan 2007). Walaupun prestasinya lumayan, Arema tidak pernah lepas dari masalah dana.

Hampir setiap musim kompetisi masalah ini selalu menghantui sehingga tak heran hampir setiap musim, manajemen klub selalu berganti. Pada 2003, Arema mengalami kesulitan keuangan parah yang berpengaruh pada prestasi tim yang membuat Singo Edan masuk ke jurang degradasi Divisi I.

Hal tersebut kemudian membuat pengelolaan Arema diserahkan ke PT Bentoel Internasional Tbk. Sejak saat itu, prestasi Arema berhasil membaik dengan menjuarai Divisi 1 2004, juara Copa Indonesia 2005 dan 2006, Arema U-18 juara Piala Soeratin 2007.

Masuk ke fase musim pertama Kompetisi Liga Super Indonesia di 2008-2009, Arema mampu masuk 10 besar tim papan atas Indonesia. Namun pada Agustus 2009, PT Bentoel melepas Arema ke kumpulan orang-orang dalam sebuah konsorsium yang hasilnya membawa Singo Edan meraih gelar juara Liga Super Indonesia dan runner up Piala Indonesia.

Arema pun sempat dibelit masalah dualisme kepemilikan ketika sepak bola Indonesia dijadikan pertarungan segelintir kelompok pada awal dekade kedua 2000-an.

Tahun 2020, Arema memasuki usia ke-33. Jelang dimulainya kompetisi Liga 1 di tengah masa pandemi covid-19, Arema justru ditinggal tiga personel, kepala pelatih Roberto Carlos Mario Gomez, pelatih fisik Marcos Gonzales serta pemain asing Jonathan Bauman.

Meski begitu, General Manager Arema FC Ruddy Widodo mengaku tidak masalah. Ia akan segera mencari pengganti yang tepat untuk menangani Singo Edan dalam mencari kejayaannya kembali.

Tamales ngalu nuhat ke-33, Arema!

(nva/bac)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK