TESTIMONI

Debby Susanto: Warisan Cita-cita Papa dan Tangisan Olimpiade

Debby Susanto, CNN Indonesia | Rabu, 20/01/2021 19:16 WIB
Tangisan usai kekalahan di Olimpiade 2016 dan sukses di All England 2016 menjadi cerita yang tidak terlupakan dalam Testimoni Debby Susanto. Debby Susanto meraih banyak sukses bersama Praveen Jordan. (ANTARA FOTO/Lucky R)

Saya melihat Kak Richard Mainaky, pelatih ganda campuran sebagai sosok yang sangat disiplin. Tetapi di saat bersamaan, Kak Richard bersedia tukar pikiran secara terbuka dengan atlet. Kak Richard juga sosok yang selalu 100 persen turun tangan langsung ke lapangan

Pada saat pratama, saya masih di ganda putri berpasangan dengan Komala Dewi sedangkan di ganda campuran pasangan saya belum tetap. Ketika promosi ke utama, saya dikasih kesempatan dan kepercayaan berpasangan dengan Kak Muhammad Rijal.

Awalnya pasti canggung karena saya juga tidak terlalu kenal dan Kak Rijal sudah termasuk pemain senior serta pernah juara. Di awal tentu butuh penyesuaian dan saya banyak berterima kasih pada Kak Rijal karena bisa sabar menghadapi dan membimbing hingga komunikasi kami berjalan baik.


Banyak suka-duka berpasangan dengan Kak Rijal, banyak kegagalan yang dilewati. Tapi juga bisa mendapat hal yang sesuai keinginan seperti juara SEA Games, juara di beberapa turnamen dan beberapa kali bisa menginjak semifinal All England dan super series. Saat itu persaingan tiap negara sangat ketat dan menembus perempat final sangat susah.

Banner gif video highlights MotoGP

Terkait SEA Games 2013, banyak hal yang terjadi karena saya hampir saja berpasangan dengan pemain lain di hari terakhir dengan beban target tetap medali emas. Saat itu, Kak Rijal sedang mengalami krisis percaya diri dan memutuskan ingin mundur.

Kak Rijal merasa sudah cukup dan ingin mundur dari PBSI. Sedangkan saya masih mengejar Olimpiade yang jadi tujuan utama saya selama berkarier di badminton.

Kak Richard terus percaya pada kami dengan segala risiko sehingga kami tetap berangkat ke SEA Games. Saya dan Kak Rijal sudah memutuskan SEA Games adalah pertandingan perpisahan untuk kami berdua. Kami akhirnya berangkat dengan tekad ingin memberikan yang terbaik dan melanjutkan tradisi emas SEA Games di ganda campuran yang tak pernah putus. Puji Tuhan, kami mendapatkan hadiah perpisahan yang indah dengan medali emas.

Menang All England

Saya melihat Praveen Jordan sebagai anak yang punya talenta dan bakat alami yang sangat bagus dibandingkan dengan pemain pria ganda campuran yang pernah saya temui. Tetapi duet bersama Jordan juga jadi tantangan besar karena dia masih muda dan butuh proses pendewasaan. Butuh kerja keras untuk menjadikan dia sebagai pribadi yang disiplin serta memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Saya merasa punya keyakinan besar saat mulai berduet dengan Praveen, tetapi saya tahu bahwa hal itu tidak akan mudah mengingat posisi saya sekarang terbalik. Saya yang harus jadi sosok pembimbing untuk Jordan yang lebih junior.

Praveen masih muda dan belum terlalu terbiasa dengan kedisiplinan Kak Richard dan langsung diberi beban mendapatkan hasil baik dalam waktu singkat. Tetapi seiring berjalan waktu, Praveen lebih dewasa, lebih bisa berkomitmen dan bertanggung jawab sehingga dalam waktu singkat kami bisa masuk dalam delapan besar dunia.

[Gambas:Video CNN]

Menjadi juara All England 2016 sangat berkesan. Saya sudah beberapa kali ikut All England dan beberapa kali terhenti di babak semifinal dan sering melihat partai final sebagai penonton.

Dalam hati saya selalu bertekad dan bertanya seperti apa rasanya bisa bermain sampai hari terakhir. Seperti apa rasanya main di final All England, dan kapan bisa naik podium All England. Jadi pada saat itu semua terwujud rasanya pasti sangat bangga dan senang karena impian saya bisa terwujud. Nama saya terukir di trofi All England.

Di All England 2016, kami sempat menghadapi Zhang Nan/Zhao Yunlei yang merupakan tantangan tersulit. Mereka selalu tampil luar biasa sepanjang tahun dan hampir tidak pernah terkalahkan. Hal itu yang justru membuat kami jadi sangat ingin merasakan kemenangan atas mereka.

Kami sangat termotivasi dan hal itu membuat kami sangat menikmati tiap detik pertandingan. Saya masih mengenang pertemuan itu dengan baik karena kami mengalami perasaan luar biasa senang lantaran bisa menang setelah tujuh pertemuan melawan mereka.

Setelah memastikan lolos ke final, perasaan saya tegang karena tinggal satu langkah lagi kami bisa jadi juara. Apalagi di beberapa pertandingan terakhir menghadapi Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, kami selalu menang.

Situasi jadi campur aduk karena ada perasaan yakin menang, tetapi di saat bersamaan juga was-was dan berusaha selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu percaya diri dan fokus di setiap poin.

Setelah akhirnya bisa jadi juara, saya ingat sekali pas mau tidur, saya berdoa dan saya masih tak percaya kalau saya diberi kesempatan untuk menjadi juara dan berdiri di podium tertinggi All Engand. Pada kesempatan itu, tentu saya juga berterima kasih pada Tuhan untuk rezeki yang diberikan.

Menangis di Olimpiade dan Keputusan Pensiun

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK