ANALISIS

Man City Juara Liga Champions, Sekarang atau Tak Sama Sekali

Oscar Ferry, CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2021 20:24 WIB
Pep Guardiola melakukan perubahan pada pendekatan taktiknya yang membuat Manchester City menjelma menjadi tim menakutkan di musim ini. Pep Guardiola melakukan perubahan pada taktik Man City musim ini. (AP/Peter Powell).

Sejak berlabuh ke Stadion Etihad, Pep mengubah pendekatan taktik Man City. Pep menjadikan Man City ganas di lini depan. Sama seperti di Barcelona dan Bayern Munchen, Pep juga menjadikan Man City yang gila menguasai bola.

Hampir setiap laga, Man City selalu memegang kendali dengan penguasaan bola hingga lebih dari 60 persen. Selama empat musim melatih, Man City dua kali juara Liga Inggris, sekali juara Piala FA, dan tiga kali kampiun Piala Liga.

Namun semua prestasi itu hanya kancah domestik. Di kancah Eropa, Pep tak mampu membawa pulang trofi Liga Champions ke lemari Man City.


Di musim ini, Pep berubah. Tampaknya dia sadar bahwa selama empat tahun terakhir timnya tak terlalu bagus di pertahanan. Meski punya striker tajam dan lini tengah mumpuni, namun faktanya sektor pertahanan menjadi titik terlemah Man City yang selama ini selalu dieksploitasi tim-tim lawan.

Karena itu, Pep melakukan pembenahan di lini belakang serta mengubah pendekatannya terhadap taktik. Tak ada lagi Man City yang terus menerus menyerang secara agresif, tapi lemah saat mendapat serangan balik.

Pep tercatat mendatangkan bek Ruben Dias dari Benfica dan Nathan Ake dari Bournemouth. Untuk sektor depan, hanya Ferran Tores yang dibeli Valencia.

Membeli Dias dan Ake dimaksud Pep untuk memperkuat lini pertahanan. Sejauh ini Dias tampil sesuai ekspetasi.

Di sisi lain, John Stones kembali ke level terbaiknya dan membaiknya performa Aymerick Laporte maupun Eric Garcia. Mereka secara bergantian bermain sebagai duet bek tengah atau ditandem bersama Stones.

Pun begitu Joao Cancelo kembali tampil apik. Cancelo membuktikan diri menjadi pemain serba bisa. Dia tak hanya piawai sebagai bek sayap kanan, tapi juga handal saat diplot sebagai bek sayap kiri maupun gelandang tengah.

Manchester City's Ilkay Gundogan, left, celebrates with Bernardo Silvaafter scoring the opening goal during the English Premier League soccer match between Liverpool and Manchester City at Anfield Stadium, Liverpool, England, Sunday, Feb. 7, 2021. (AP photo/Jon Super, Pool)Pendekatan baru pada taktik oleh Pep Guardiola membuat Man City melibas tim-tim besar macam Liverpool. (AP/Jon Super).

Di setiap laga Pep kerap menurunkan formasi 4-3-3. Formasi itu menjadi pakem ketika bertahan dan berubah menjadi 3-4-3 ketika menyerang.

Artinya, Pep kini lebih mementingkan kedisiplinan para pemain belakangnya. Pep juga menginstruksikan melakukan pressing tinggi kepada para pemain lawan saat tanpa bola.

Pressing tinggi dalam hal ini hanya melakukan penjagaan zona pada masing-masing pemain lawan, dan memposisikan diri untuk memotong jalur umpan musuh.

[Gambas:Video CNN]

Tak hanya itu, Pep juga memainkan dua posisi palsu beberapa kali, yakni false nine dan false right full back. Dalam beberapa pertandingan, Ilkay Gundogan atau Phil Foden menjadi false nine alih-alih memainkan Sergio Aguero atau Gabriel Jesus yang merupakan striker murni.

Sedangkan Cancelo sering menjadi gelandang bertahan ketika dalam situasi menyerang. Sementara Dias dan Stones ditemani Oleksandr Zinchenko menjadi trio bek tengah.

Ketika bertahan, Cancelo kembali ke posisinya untuk membentuk empat bek sejajar. Sementara tiga gelandangnya turun membantu pertahanan di depan empat bek.

Perubahan pendekatan pada taktik tersebut yang sejauh ini menuai hasil positif. Mereka menjadi satu-satunya tim di Liga Inggris dengan jumlah kebobolan paling sedikit, yakni baru 15 kali.

Selain itu, perubahan itu juga menciptakan keseimbangan antarlini. Pertahanan kuat, tapi para pemainnya tetap mampu gahar di muka gawang lawan. Terbukti dengan 26 laga tanpa terkalahkan, 19 laga di antaranya merupakan kemenangan beruntun.

(sry)
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK