Fictor Roring meraih banyak kesuksesan semasa jadi pemain dan pelatih basket di Indonesia. (Arsip Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya merasakan berkah yang luar biasa selama menekuni olahraga basket. Banyak gelar yang saya raih, baik semasa aktif sebagai pemain maupun saat memutuskan jadi pelatih.
Saya lahir dan tumbuh besar di Manado, Sulawesi Utara. Ayah saya seorang tentara dan bisa dibilang saya datang dari keluarga yang mencintai olahraga, meski hanya saya yang bisa berkarier di dunia olahraga profesional.
Semasa kanak-kanak saya diperkenalkan dengan banyak jenis olahraga. Tenis meja, bulutangkis, tenis, bela diri taekwondo, dan sepak bola, merupakan olahraga yang saya kenal ketika itu.
Saya main semua olahraga itu dari kecil. Biasanya kami bermain di halaman rumah karena kebetulan halaman rumah yang kami tempati saat itu lumayan besar.
Perkenalan saya dengan olahraga basket baru terjadi saat menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama. Waktu itu saya diajari main basket karena punya postur yang tinggi untuk anak-anak remaja seusia saya.
Dari sana bakat bermain basket saya semakin terasah. Saat menginjak bangku Sekolah Menengah Atas di SMA 7 Manado, saya mulai rutin bermain di kejuaraan antarsekolah.
Pada 1988 saya tampil di kejuaraan nasional yang berlangsung di Surabaya. Kami tampil mewakili Manado dan dari sana jalan saya untuk menjadi pemain basket profesional mulai terbuka.
Selesai Kejurnas, saya masuk daftar pemain yang dipilih Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) untuk memperkuat timnas basket junior. Saat itu umur saya masih 16 tahun.
Setelah panggilan itu, saya lantas memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Saya masih ingat betul momennya pada Desember 1988, tepat di hari saya berulang tahun yang ke-16.
Fictor Roring sudah memperkuat timnas basket Indonesia sejak berusia 16. (Foto: Arsip Pribadi)
Pindah ke Jakarta, saya kembali mengukir prestasi saat memperkuat tim sekolah saya SMA 3 Teladan Jakarta. Beberapa kejuaraan bergengsi bisa kami menangi, seperti yang saya capai bersama tim SMP dan SMA saya di Manado.
Saat usia 17 saya sudah masuk tim profesional, Pelita Jaya yang tampil di Kobatama. Di tahun ketiga membela Pelita Jaya, kami berhasil meraih gelar juara yang juga jadi gelar pertama saya sebagai pebasket profesional.
Setelah itu saya juga berhasil menjadi juara bersama Aspac dan Satria Muda. Total lima gelar juara saya raih semasa aktif sebagai pemain. Mungkin hanya sedikit pemain yang bisa melakukannya dengan tiga klub berbeda, atau malah cuma saya satu-satunya pebasket yang membuat pencapaian itu.
Satu yang pasti, semua gelar yang saya raih itu tidak didapat dengan mudah. Butuh perjuangan keras dan mental baja untuk meraihnya.
Saat juara kali pertama bersama Pelita Jaya, kami berhasil mengalahkan lawan tangguh Halim Kediri. Begitu pindah ke Aspac, ada saingan berat lain yaitu Panasia Indosyntec.
Fictor Roring berhasil jadi juara kompetisi basket di Indonesia bersama Pelita Jaya, Aspac, dan Satria Muda. (Arsip Pribadi)
Di Satria Muda, kami harus melakoni perjuangan yang tidak mudah untuk jadi yang terbaik karena masih ada Panasia dan juga mantan tim saya, Aspac. Bisa dibilang setiap masa punya lawan-lawan berat yang berbeda.
Selain bertemu lawan-lawan sulit di kompetisi, saya juga harus bertarung dengan cedera yang saya alami. Sejak 1995 saya makin akrab dengan cedera engkel dan pinggang.
Cedera engkel yang saya alami masih bisa diatasi, tetapi tidak dengan cedera pinggang. Kalau sedang kambuh, cedera pinggang ini membuat saya sampai tidak bisa bergerak. Bahkan untuk sekadar berjalan dari kamar ke toilet saja tidak bisa.
Pokoknya saya hanya bisa berbaring saja di tempat tidur. Kondisi itu bisa berlangsung 1-2 hari dan biasanya kambuh setelah menjalani latihan yang keras.
Saya mulai merasakan sakit di bagian pinggang ini saat membela Aspac. Saya juga pernah diantar bos Aspac Irawan 'Kim Hong' Haryono ke seorang dokter untuk mengetahui masalah cedera pinggang saya.
Hasilnya dokter menjatuhkan vonis saya tidak bisa main lagi. Namun, saya menolak untuk berhenti dan memilih untuk tetap berkarier. Baru enam tahun setelah vonis tersebut saya akhirnya memutuskan pensiun.
Saya memilih untuk bertahan walau sudah akrab dengan cedera karena meyakini kisah saya sebagai pemain belum selesai. Tekad kuat untuk berprestasi berhasil mengalahkan rasa sakit yang saya rasakan.
Terbukti selama enam tahun itu saya masih bisa bertahan dan mengukir prestasi. Lima gelar juara di tiga klub berbeda jadi bukti kemauan kuat saya itu. Saya juara bukan cuma duduk manis atau cadangan mati, tetapi memberikan kontribusi besar untuk tim.
Saya baru memutuskan berhenti pada 2001 ketika usia saya masih lumayan muda, 29 tahun. Keputusan ini suatu hal yang berat karena saya sebenarnya masih berada di level atas.
Saya melakoni pertandingan terakhir saat memperkuat timnas di SEA Games 2001. Sebenarnya saya masih sangat bisa bersaing waktu itu.
Diskusi saya dengan istri terkait keputusan pensiun ini juga berjalan sengit. Istri masih ingin melihat saya main, dia juga ingin anak-anak bisa melihat ayahnya bertanding di lapangan basket.
Saya juga masih punya keinginan yang sama tetapi setelah dihitung-hitung dengan baik, akhirnya saya membulatkan keputusan untuk pensiun. Apalagi, di masa-masa terakhir karier saya sebagai pemain, saya ingat sekali rasa sakit di pinggang sudah lebih dominan daripada kenikmatan yang saya dapat dari bermain di lapangan.
Saya memutuskan untuk berhenti saja. Meski pensiun di usia yang tergolong muda, saya bisa meninggalkan arena basket dengan perasaan lega.
Saya memulai karier profesional di olahraga ini sejak usia 17. Lebih dari satu dekade saya bermain dan begitu banyak prestasi yang juga saya ukir di level klub maupun timnas sehingga tidak ada yang perlu disesali.
Sebagai seorang pemain basket profesional, saya sebenarnya tidak tinggi-tinggi banget. Kalau dibilang pemain yang cepat juga tidak, dan skill juga rata-rata saja..he..he..he
Tetapi banyak yang bilang saya pemain yang pintar. Saya disebut pemain yang cerdik saat berada di lapangan untuk menutupi kekurangan yang saya miliki. Di zaman itu saya sudah dikenal dengan sebutan point center.
Sebagai seorang bigman, saya bisa main dengan baik di area dalam dan juga luar. Akurasi tembakan tiga poin saya juga cukup baik untuk ukuran seorang center.
Dulu saya bisa begitu seiring kehadiran pemain asing di kompetisi basket profesional Tanah Air. Saya dituntut mengembangkan diri jika masih ingin masuk starter tim.
Kalau tidak berupaya keras untuk menaikkan level kemampuan, maka siap-siap jadi cadangan mati karena tempat diambil alih oleh pemain asing. Cara saya itu terbukti berhasil dan performa saya ikut meningkat di lapangan.
Saya juga beruntung karena di mana pun saya bermain selalu bisa juara. Bahkan di ajang SEA Games, saya berhasil meraih medali perak sebagai pemain dan juga pelatih.
Dari sekian banyak prestasi yang saya raih di klub, saya bisa bilang semua itu punya nilai yang sama. Hanya momennya saja yang berbeda.
Kalaupun mau dibedakan maka prestasi yang saya dapat bersama timnas sebagai pemain dan pelatih yang nilainya berbeda. Karena membela negara itu sesuatu yang nilainya lebih tinggi dari apapun.
Sebuah kehormatan buat saya bisa membela negara di ajang internasional. Apalagi saat kami meraih medali perak di SEA Games 2001. Perasaannya luar biasa karena itu perak pertama untuk Indonesia di ajang basket.
Ketika memutuskan beralih jadi pelatih, saya juga banyak dibantu oleh coach Ocky Tamtelahitu di Satria Muda. Dia yang memberikan dukungan penuh kepada saya untuk jadi seorang pelatih.
Fictor Roring kini menekuni karier sebagai General Manager Pelita Jaya. (Arsip Pribadi)
Di awal karier saya, dia yang menjejali saya dengan dengan buku-buku tentang kepelatihan. Kami berdiskusi dan belajar bersama-sama. Semuanya bermula dari sana.
Meskipun sebelum benar-benar terjun jadi pelatih profesional, saya sudah merintis karier saya untuk sampai ke sana. Saya tajamkan kemampuan saya dari sana.
Saat masih aktif bermain sekitar 1996, saya jadi pelatih tim SMP dan berlanjut melatih tim kampus, Perbanas pada 1998. Perbanas berhasil saya antarkan jadi juara Liga Basket Mahasiswa pada masa itu.
Awalnya memang bukan hal yang mudah bertransisi dari pemain ke pelatih. Secara pribadi waktu itu saya merasa lebih enak bermain karena adrenalin kita terpacu dan berkeringat di lapangan.
Kondisinya berbeda saat jadi pelatih. Jadi pelatih itu kepala yang pusing karena harus memikirkan banyak hal. Kadang juga terlintas mending gue aja yang main daripada loe, saat ada pemain yang tampil tidak sesuai ekspektasi..ha.ha..ha
Tetapi seiring berjalannya waktu saya menemukan enaknya jadi pelatih. Jika diumpamakan sebagai pelatih saya bisa mengisi sebuah kertas kosong dengan suatu tulisan atau puisi.
Ini suatu hal yang menurut saya keren. Pemain yang belum tahu apa-apa kita bentuk dan kita latih hingga bisa mengukir prestasi. Buat saya itu sudah merupakan sebuah pencapaian.
Terlebih tidak semua pemain punya bakat untuk jadi pelatih, tidak semua orang punya kemampuan itu. Michael Jordan pemain yang bagus tapi dia tidak memilih jadi pelatih, begitu juga dengan Magic Johnson. Dia sempat sebentar jadi pelatih tapi akhirnya meninggalkan peran itu. Panggilan berbeda-beda.
Maka dari itu saya merasa diberkati luar biasa bisa sukses sebagai pelatih. Saya datang dari kampung ke Jakarta hingga bisa berprestasi seperti sekarang. Saya pikir itu berkat luar biasa yang Tuhan kasih buat saya.
Saya juga tidak lupa dari mana asal saya. Alasan itu juga yang membuat saya membangun lapangan basket di Manado. Saya ingin mengembangkan bakat-bakat yang ada di sana, membuat akademi, dengan harapan muncul bakat-bakat baru untuk Indonesia.
Sekarang saya menjabat sebagai General Manager Pelita Jaya. Saya juga punya target meraih prestasi luar biasa seperti yang pernah saya lakukan bersama Satria Muda dengan posisi saya yang sama pada saat itu.
Bisa dibilang saya sangat puas dengan apa yang saya dapatkan sampai sejauh ini. Sebagai pemain saya meraih satu medali perak SEA Games dan dua kali medali perak pada 2017 dan 2015 sebagai pelatih. Mimpi saya untuk basket Indonesia bisa meraih medali emas dan saya meyakini suatu saat kita pasti bisa meraihnya.
Pada 2015 kami sudah cukup dekat dengan medali emas itu. Dua menit terakhir pertandingan, kita hanya tertinggal tiga poin dari Filipina. Peluangnya ketika itu masih sama besar, tapi akhirnya banyak faktor yang membuat kami gagal. Namun, suatu saat nanti saya percaya medali emas itu akan jadi milik kita.
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya merasakan berkah yang luar biasa selama menekuni olahraga basket. Banyak gelar yang saya raih, baik semasa aktif sebagai pemain maupun saat memutuskan jadi pelatih.
Saya lahir dan tumbuh besar di Manado, Sulawesi Utara. Ayah saya seorang tentara dan bisa dibilang saya datang dari keluarga yang mencintai olahraga, meski hanya saya yang bisa berkarier di dunia olahraga profesional.
Semasa kanak-kanak saya diperkenalkan dengan banyak jenis olahraga. Tenis meja, bulutangkis, tenis, bela diri taekwondo, dan sepak bola, merupakan olahraga yang saya kenal ketika itu.
Saya main semua olahraga itu dari kecil. Biasanya kami bermain di halaman rumah karena kebetulan halaman rumah yang kami tempati saat itu lumayan besar.
Perkenalan saya dengan olahraga basket baru terjadi saat menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama. Waktu itu saya diajari main basket karena punya postur yang tinggi untuk anak-anak remaja seusia saya.
Dari sana bakat bermain basket saya semakin terasah. Saat menginjak bangku Sekolah Menengah Atas di SMA 7 Manado, saya mulai rutin bermain di kejuaraan antarsekolah.
Pada 1988 saya tampil di kejuaraan nasional yang berlangsung di Surabaya. Kami tampil mewakili Manado dan dari sana jalan saya untuk menjadi pemain basket profesional mulai terbuka.
Selesai Kejurnas, saya masuk daftar pemain yang dipilih Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) untuk memperkuat timnas basket junior. Saat itu umur saya masih 16 tahun.
Setelah panggilan itu, saya lantas memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Saya masih ingat betul momennya pada Desember 1988, tepat di hari saya berulang tahun yang ke-16.
Fictor Roring sudah memperkuat timnas basket Indonesia sejak berusia 16. (Foto: Arsip Pribadi)
Pindah ke Jakarta, saya kembali mengukir prestasi saat memperkuat tim sekolah saya SMA 3 Teladan Jakarta. Beberapa kejuaraan bergengsi bisa kami menangi, seperti yang saya capai bersama tim SMP dan SMA saya di Manado.
Saat usia 17 saya sudah masuk tim profesional, Pelita Jaya yang tampil di Kobatama. Di tahun ketiga membela Pelita Jaya, kami berhasil meraih gelar juara yang juga jadi gelar pertama saya sebagai pebasket profesional.
Setelah itu saya juga berhasil menjadi juara bersama Aspac dan Satria Muda. Total lima gelar juara saya raih semasa aktif sebagai pemain. Mungkin hanya sedikit pemain yang bisa melakukannya dengan tiga klub berbeda, atau malah cuma saya satu-satunya pebasket yang membuat pencapaian itu.
Satu yang pasti, semua gelar yang saya raih itu tidak didapat dengan mudah. Butuh perjuangan keras dan mental baja untuk meraihnya.
Saat juara kali pertama bersama Pelita Jaya, kami berhasil mengalahkan lawan tangguh Halim Kediri. Begitu pindah ke Aspac, ada saingan berat lain yaitu Panasia Indosyntec.
Fictor Roring berhasil jadi juara kompetisi basket di Indonesia bersama Pelita Jaya, Aspac, dan Satria Muda. (Arsip Pribadi)
Di Satria Muda, kami harus melakoni perjuangan yang tidak mudah untuk jadi yang terbaik karena masih ada Panasia dan juga mantan tim saya, Aspac. Bisa dibilang setiap masa punya lawan-lawan berat yang berbeda.
Selain bertemu lawan-lawan sulit di kompetisi, saya juga harus bertarung dengan cedera yang saya alami. Sejak 1995 saya makin akrab dengan cedera engkel dan pinggang.
Cedera engkel yang saya alami masih bisa diatasi, tetapi tidak dengan cedera pinggang. Kalau sedang kambuh, cedera pinggang ini membuat saya sampai tidak bisa bergerak. Bahkan untuk sekadar berjalan dari kamar ke toilet saja tidak bisa.
Pokoknya saya hanya bisa berbaring saja di tempat tidur. Kondisi itu bisa berlangsung 1-2 hari dan biasanya kambuh setelah menjalani latihan yang keras.
Saya mulai merasakan sakit di bagian pinggang ini saat membela Aspac. Saya juga pernah diantar bos Aspac Irawan 'Kim Hong' Haryono ke seorang dokter untuk mengetahui masalah cedera pinggang saya.
Hasilnya dokter menjatuhkan vonis saya tidak bisa main lagi. Namun, saya menolak untuk berhenti dan memilih untuk tetap berkarier. Baru enam tahun setelah vonis tersebut saya akhirnya memutuskan pensiun.
Saya memilih untuk bertahan walau sudah akrab dengan cedera karena meyakini kisah saya sebagai pemain belum selesai. Tekad kuat untuk berprestasi berhasil mengalahkan rasa sakit yang saya rasakan.
Terbukti selama enam tahun itu saya masih bisa bertahan dan mengukir prestasi. Lima gelar juara di tiga klub berbeda jadi bukti kemauan kuat saya itu. Saya juara bukan cuma duduk manis atau cadangan mati, tetapi memberikan kontribusi besar untuk tim.
Saya baru memutuskan berhenti pada 2001 ketika usia saya masih lumayan muda, 29 tahun. Keputusan ini suatu hal yang berat karena saya sebenarnya masih berada di level atas.
Saya melakoni pertandingan terakhir saat memperkuat timnas di SEA Games 2001. Sebenarnya saya masih sangat bisa bersaing waktu itu.
Diskusi saya dengan istri terkait keputusan pensiun ini juga berjalan sengit. Istri masih ingin melihat saya main, dia juga ingin anak-anak bisa melihat ayahnya bertanding di lapangan basket.
Saya juga masih punya keinginan yang sama tetapi setelah dihitung-hitung dengan baik, akhirnya saya membulatkan keputusan untuk pensiun. Apalagi, di masa-masa terakhir karier saya sebagai pemain, saya ingat sekali rasa sakit di pinggang sudah lebih dominan daripada kenikmatan yang saya dapat dari bermain di lapangan.
Saya memutuskan untuk berhenti saja. Meski pensiun di usia yang tergolong muda, saya bisa meninggalkan arena basket dengan perasaan lega.
Saya memulai karier profesional di olahraga ini sejak usia 17. Lebih dari satu dekade saya bermain dan begitu banyak prestasi yang juga saya ukir di level klub maupun timnas sehingga tidak ada yang perlu disesali.
Mimpi Rebut Medali Emas SEA Games
Fictor Roring bertangan dingin saat menjadi pelatih. (Arsip Pribadi)
Sebagai seorang pemain basket profesional, saya sebenarnya tidak tinggi-tinggi banget. Kalau dibilang pemain yang cepat juga tidak, dan skill juga rata-rata saja..he..he..he
Tetapi banyak yang bilang saya pemain yang pintar. Saya disebut pemain yang cerdik saat berada di lapangan untuk menutupi kekurangan yang saya miliki. Di zaman itu saya sudah dikenal dengan sebutan point center.
Sebagai seorang bigman, saya bisa main dengan baik di area dalam dan juga luar. Akurasi tembakan tiga poin saya juga cukup baik untuk ukuran seorang center.
Dulu saya bisa begitu seiring kehadiran pemain asing di kompetisi basket profesional Tanah Air. Saya dituntut mengembangkan diri jika masih ingin masuk starter tim.
Kalau tidak berupaya keras untuk menaikkan level kemampuan, maka siap-siap jadi cadangan mati karena tempat diambil alih oleh pemain asing. Cara saya itu terbukti berhasil dan performa saya ikut meningkat di lapangan.
Saya juga beruntung karena di mana pun saya bermain selalu bisa juara. Bahkan di ajang SEA Games, saya berhasil meraih medali perak sebagai pemain dan juga pelatih.
Dari sekian banyak prestasi yang saya raih di klub, saya bisa bilang semua itu punya nilai yang sama. Hanya momennya saja yang berbeda.
Kalaupun mau dibedakan maka prestasi yang saya dapat bersama timnas sebagai pemain dan pelatih yang nilainya berbeda. Karena membela negara itu sesuatu yang nilainya lebih tinggi dari apapun.
Sebuah kehormatan buat saya bisa membela negara di ajang internasional. Apalagi saat kami meraih medali perak di SEA Games 2001. Perasaannya luar biasa karena itu perak pertama untuk Indonesia di ajang basket.
Ketika memutuskan beralih jadi pelatih, saya juga banyak dibantu oleh coach Ocky Tamtelahitu di Satria Muda. Dia yang memberikan dukungan penuh kepada saya untuk jadi seorang pelatih.
Fictor Roring kini menekuni karier sebagai General Manager Pelita Jaya. (Arsip Pribadi)
Di awal karier saya, dia yang menjejali saya dengan dengan buku-buku tentang kepelatihan. Kami berdiskusi dan belajar bersama-sama. Semuanya bermula dari sana.
Meskipun sebelum benar-benar terjun jadi pelatih profesional, saya sudah merintis karier saya untuk sampai ke sana. Saya tajamkan kemampuan saya dari sana.
Saat masih aktif bermain sekitar 1996, saya jadi pelatih tim SMP dan berlanjut melatih tim kampus, Perbanas pada 1998. Perbanas berhasil saya antarkan jadi juara Liga Basket Mahasiswa pada masa itu.
Awalnya memang bukan hal yang mudah bertransisi dari pemain ke pelatih. Secara pribadi waktu itu saya merasa lebih enak bermain karena adrenalin kita terpacu dan berkeringat di lapangan.
Kondisinya berbeda saat jadi pelatih. Jadi pelatih itu kepala yang pusing karena harus memikirkan banyak hal. Kadang juga terlintas mending gue aja yang main daripada loe, saat ada pemain yang tampil tidak sesuai ekspektasi..ha.ha..ha
Tetapi seiring berjalannya waktu saya menemukan enaknya jadi pelatih. Jika diumpamakan sebagai pelatih saya bisa mengisi sebuah kertas kosong dengan suatu tulisan atau puisi.
Ini suatu hal yang menurut saya keren. Pemain yang belum tahu apa-apa kita bentuk dan kita latih hingga bisa mengukir prestasi. Buat saya itu sudah merupakan sebuah pencapaian.
Terlebih tidak semua pemain punya bakat untuk jadi pelatih, tidak semua orang punya kemampuan itu. Michael Jordan pemain yang bagus tapi dia tidak memilih jadi pelatih, begitu juga dengan Magic Johnson. Dia sempat sebentar jadi pelatih tapi akhirnya meninggalkan peran itu. Panggilan berbeda-beda.
Maka dari itu saya merasa diberkati luar biasa bisa sukses sebagai pelatih. Saya datang dari kampung ke Jakarta hingga bisa berprestasi seperti sekarang. Saya pikir itu berkat luar biasa yang Tuhan kasih buat saya.
Saya juga tidak lupa dari mana asal saya. Alasan itu juga yang membuat saya membangun lapangan basket di Manado. Saya ingin mengembangkan bakat-bakat yang ada di sana, membuat akademi, dengan harapan muncul bakat-bakat baru untuk Indonesia.
Sekarang saya menjabat sebagai General Manager Pelita Jaya. Saya juga punya target meraih prestasi luar biasa seperti yang pernah saya lakukan bersama Satria Muda dengan posisi saya yang sama pada saat itu.
Bisa dibilang saya sangat puas dengan apa yang saya dapatkan sampai sejauh ini. Sebagai pemain saya meraih satu medali perak SEA Games dan dua kali medali perak pada 2017 dan 2015 sebagai pelatih. Mimpi saya untuk basket Indonesia bisa meraih medali emas dan saya meyakini suatu saat kita pasti bisa meraihnya.
Pada 2015 kami sudah cukup dekat dengan medali emas itu. Dua menit terakhir pertandingan, kita hanya tertinggal tiga poin dari Filipina. Peluangnya ketika itu masih sama besar, tapi akhirnya banyak faktor yang membuat kami gagal. Namun, suatu saat nanti saya percaya medali emas itu akan jadi milik kita.