Virus Komputer

Awas, Virus Pengunci Komputer yang Meminta Tebusan

Deddy S, CNN Indonesia | Jumat, 26/12/2014 13:54 WIB
Ransomware, virus yang suka mengunci komputer dan data serta meminta tebusan, mulai marak. Menjelang akhir 2014, virus ini ternyata sudah berevolusi. Ilustrasi (CNN Indonesia/Thinkstock/Scyther5)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejak 2013, ransomware, sebuah virus yang suka mengunci komputer dan data milik korban serta meminta tebusan untuk membukanya, mulai marak. Menjelang akhir 2014, virus ini ternyata sudah berevolusi.

Virus--yang menginfeksi ketika korban lalai mengunduh file bervirus atau kebocoran di jaringan--terbagi ke dalam tiga jenis, pertama, yang hanya mengunci layar dan kedua, yang hanya mengunci file di harddisk. Lalu yang ketiga adalah yang mampu melakukan aksi pertama dan kedua tadi. Sebagai contoh adalah ransomware yang menginfeksi sistem operasi Android.

Tapi baru-baru ini sudah muncul jenis paling baru, yang jauh lebih canggih. Seperti dirilis oleh perusahaan antivirus ESET, Jumat (26/12), ransomware terbaru ini teridentifikasi dengan nama Win32/Virlock.
Ransomware ini selain mengunci layar, mengenkripsi file, juga menginfeksi file-file tersebut dengan dengan memasukan program ke executable file, kemudian  bertindak sebagai virus parasit. Tak ubahnya organisme, virus yang satu ini pun mampu 'bereproduksi'.

Kombinasi semua kemampuan ini, menurut analis di ESET, merupakan yang pertama ditemukan di jagad virus komputer. Virus canggih ini sudah terdeteksi di Amerika Serikat.


Kalau komputer korban terinfeksi, maka Win32/Virlock akan menginstal programnya secara mandiri di komputer dan aktif ketika Windows di-boot up. Ia malah punya kemampuan pertahanan diri ketika ada upaya untuk menghapusnya.  

Jenis file yang bisa terinfeksi virus ini cukup beragam. Mulai dari yang berekstensi .exe, .doc, .xls, .zip, .pdf, .mp3, .png, .gif, .bmp, .jpg atau .jpeg, dan sebagainya.  
Pesan yang dikirimkan pada komputer korban biasanya berisi permintaan tebusan jika ingin sistem komputernya bisa diakses lagi. Malah ada pelaku yang meminta duit tebusan dalam mata uang virtual, bitcoin.
   
"Perilaku virus ini membuat user yang terinfeksi menjadi sangat takut, lalu menyerah dengan membayar tebusan," kata Yudhi Kukuh, Technical Consultant di PT Prosperita-ESET Indonesia.