Berlian Ternyata Bukan Berasal dari Bumi

Hani Nur Fajrina | CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2015 14:46 WIB
Asal usul batu berlian akhirnya terungkap. Hasilnya mengejutkan, karena para peneliti yakin permata ini bukan berasal dari Bumi. Menurut para peneliti batu berlian ternyata bukan berasal dari Bumi (Reuters/Stefan Wermuth)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berlian yang dikenal sebagai sahabat para kaum wanita dan mampu mengesankan penampilan memang termasuk barang berharga. Satu hal berharga lain yang mungkin tak banyak diketahui adalah asal-usulnya. Dari mana sebetulnya berlian itu?

Jawabannya adalah dari luar angkasa.

Pada tahun 2008 silam, sebuah asteroid berbobot 80 ton dan diameter 4,1 meter menghantam Bumi dan menghancurkan padang pasir Nubian di Sudan.


Dari serangan kala itu, asteroid bernama 2008 TC3 ini menghasilkan 600 pecahan meteorit yang tiap bebatuannya memiliki berat 10,5 kilogram. Kumpulan meteorit tersebut dinamakan Almahata Sitta.


Nah, dari hasil penelitian, pecahan Almahata Sitta ini terungkap mengandung berlian. Walau banyak meteorit diyakini memang menyimpan berlian, namun penelitian baru ini menunjukan bahwa berlian tersebut ukurannya lebih besar.

Menurut penelitian tim Masaaki Miyahara dari Hiroshima University di Jepang, berlian tersebut terbentuk dengan cara tak biasa.

Berlian besar biasanya terbentuk di dalam gumpalan batu, seperti planet. Apabila penelitian tim Miyahara tepat, maka berlian itu berasal dari planet yang terbentuk pada saat sistem tata surya kita ini lahir, lalu hingga planet itu hancur.

Pemikiran mendasarnya adalah berlian di meteorit terbentuk saat asteroid mengalami tabrakan, sehingga pengaruh benturan menghancurkan karbon menjadi berlian kecil-kecil.

Untuk bisa menjelaskan lebih jauh mengapa berlian yang ditemukan ukurannya besar, para peneliti beranggapan berlian terbentuk di dalam "planetesimal", yakni gumpalan batu yang ukurannya lebih besar dari asteroid biasa.


Planetesimal ini dipercaya sudah lahir sebelum sistem tata surya dan planet-planetnya tertata rapi seperti sekarang. 

Yang jelas, sistem tata surya muda dulunya penuh dengan guncangan dan banyak pecahan batu meteorit lengkap dengan elemen es yang berputar melayang di sekitarnya sehingga memang sering terjadi tabrakan satu sama lain.

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Geochimica et Cosmochimica Acta.

TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER