"Coverage (cakupan), kapasitas, dan affordability (keterjangkauan harga) adalah tiga hal besar yang perlu diperhatikan," ujar Rudiantara dalam diskusi Memotret Setahun Kerja Rudiantara yang diselenggarakan CNNIndonesia.com, Jumat (25/9).
Menurut Chief RA -- begitu ia biasa disapa -- masalah cakupan selalu menyoal luasnya wilayah Indonesia secara geografis dan masalah infrakstrukur telekomunikasi yang belum menjangkau seluruh kawasan. Kemudian soal kapasitas tak bisa lepas dari kesenjangan daerah pedesaan dan kota besar. Dan soal affordability juga menyoroti ketimpangan tarif Internet di kawasan Barat dan Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami coba terapkan lewat Palapa Ring agar semua kota Indonesia bisa terhubung dengan broadband. Ini bukan soal internet saja, tapi kesatuan NKRI. Saya mau semua area sudah memiliki layanan TIK," ucap Rudiantara.
"Banyak yang mempertanyakan apakah infrastruktur akan betul-betul 'berguna' untuk masyarakat di sana? Padahal menurut saya ini bukan soal efisiensi, namun lebih kepada hak," kata Donny.
Menurutnya, urusan infrastruktur itu memang sudah pasti jadi proyek yang diperhitungkan untung ruginya pada aspek goodwill dan political will. Dengan adanya pertanyaan apakah infrastruktur berupa BTS akan sungguh bermanfaat, Donny mengatakan, masyarakat di sana sudah pasti perlu diberdayakan.
"Sudah ada Internet, ya masyarakat di sana harus diberdayakan untuk penggunaannya. Jangan sampai BTS hanya jadi BTS saja, berkarat dan lain sebagainya, istilahnya begitu. Harus ada kelanjutan usage, pemberdayaan masyarakat, dan keterlibatan komunitas," terangnya.
Kembali mengacu pada proyek Palapa Ring, Rudiantara berharap tak ada lagi kesenjangan tarif Internet di Indonesia timur mengingat tarif di sana bisa dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan di Jakarta.
Proyek Palapa Ring bakal dikerjakan dengan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang didasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.
Pembangunan serat optik ini dilakukan di 50 sampai 60 kabupaten kota di Indonesia yang total nilanya mencapai US$230,64 juta.
Menkominfo akan berperan sebagai Penanggung jawab Proyek Kerjasama (PJPK) untuk membiayai sejumlah bagian kebutuhan dana pembangunan dan bisa memberi insentif kepada pihak yang terlibat dengan memanfaat dana Kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi atau Universal Service Obligation (USO). (adt/eno)