Yansen Kamto: Ide Nadiem Soal Gojek itu 'Gila'

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Selasa, 27/09/2016 13:36 WIB
CEO Kibar Yansen Kamto, menilai ide Nadiem Makarim tentang Gojek sebagai ide gila. Semangat untuk memberi solusi atas masalah jadi kunci sukses Gojek. CEO Kibar Yansen Kamto (CNN Indonesia/ Hani Nur Fajrina)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO Kibar Yansen Kamto, sebelumnya menilai ide Nadiem Makarim tentang Gojek sebagai hal "gila" saat pertama kali mendengarnya. Tetapi kini ia menyadari inovasi yang dipikirkan tim Gojek lahir untuk menyelesaikan masalah besar. 

Yansen menilai ide besar Gojek bukan pekerjaan mudah. Karena, selain berjuang mengumpulkan penumpang, Gojek juga dituntut membangun ekosistem mitra pengemudi. Penumpang dan pengemudi ini sama pentingnya dan harus diperlakukan adil.

"Waktu Nadiem cerita dia punya ide tukang ojek menggunakan Android, saya pikir ini orang sudah gila," kata Yansen.


Upaya Gojek membangun ekosistem tentu membutuhkan uang yang sangat banyak. Untuk mitra pengemudi saja, perusahaan harus memfasilitasi ponsel Android beserta aplikasinya, lalu jaket dan helm. Untuk penumpang, Gojek memberi subsidi dan potongan harga untuk memperkenalkan produknya. Bonus-bonus juga harus digelontorkan Gojek agar para mitra tetap setia.

Ketika Gojek mulai mendapat sambutan di tengah masyarakat, Yansen mengaku perusahaan tersebut telah menjadi "game changer" dalam bisnis transportasi juga digital di Indonesia. Kini, Gojek menjadi salah satu perusahaan teknologi yang valuasinya mencapai triliunan rupiah.

"Sejak itu kalau ada orang yang pitching ide startup, segila apa pun harus didengar," kenang Yansen yang dikenal dengan kepala plontos dan selalu bercelana pendek ini.

Nadiem, sebelumnya sempat memimpin perusahaan e-commerce Zalora Indonesia, lalu melanjutkan petualangan bisnis teknologi di perusahaan pembayaran online Kartuku. Pengalamannya, ditambah dengan latar belakang pendidikan bisnis di Universitas Harvard, membuat Nadiem dan tim pandai dalam mengeksekusi ide besar.


Kejelian yang sama dilihat Yansen terhadap remaja perempuan asal Surabaya, Leonika Sari, yang mendirikan startup Reblood. Leonika yang kini jadi CEO di Reblood ini tergerak untuk menciptakan aplikasi berbasis teknologi untuk mengatasi masalah kekurangan donor darah yang ia temukan.

Reblood saat ini menyediakan informasi yang berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya donor darah, dan mengajak penggunanya untuk hidup lebih sehat melalui donor darah.

"Waktu itu ada seorang warga Surabaya yang terkena penyakit Lupus dan butuh transfusi darah O+ tapi stok PMI Surabaya habis. Padahal biasanya O+ adalah golongan darah yang paling banyak dan PMI Surabaya adalah salah satu palang merah berkapasitas terbesar di Indonesia," ucap Leonika.

Bagi para pendiri startup, masalah macam ini menjadi tentangan sekaligus kesempatan agar mereka membuat sebuah aplikasi atau layanan yang dapat memberi solusi atas masalah tersebut.


Yansen bersama Kibar melihat kesempatan tersebut sebagai peluang bisnis, dan oleh sebab itu mereka mendorong Gerakan Nasional 1000 Startup Digital untuk mendorong muda-mudi menciptakan solusi atas masalah di sekitarnya dengan basis teknologi informasi.

"Itu sebabnya Kibar mengusung konsep ecosystem builder dan menemukan bakat-bakat muda yang punya ide memecahkan beragam masalah di Indonesia," terang Yansen.

Kibar sendiri baru saja meluncurkan program inkubator startup baru bernama Trailblazers yang diinisiasi bersama London School of Public Relations pada Senin (26/9). Program tersebut menjadi yang kedua setelah berhasil meluncurkan program serupa di Universitas Gajah Mada dengan nama Innovation Academy.


Kibar yang sedang dalam misi menelurkan 1000 startup pada 2020 akan membangun program inkubator serupa di salah satu kampus ternama Indonesia. Tak hanya di kampus, Kibar juga telah bergerak bersama beberapa pegiat teknologi di kota-kota lain untuk mewujudkan misinya.

"Kami akan mengadakan program Ignition di Semarang, Malang, dan Bandung pada November mendatang," tutur Yansen.

Perlu diketahui program inkubasi Kibar terdiri dari beberapa proses mulai dari ignition, workshop, hackathon, bootcamp, hingga masa inkubasi. Seluruh proses tersebut menghabiskan waktu enam bulan. Saat ini program inkubasi Kibar yang mendapat dukungan dari pemerintah kota baru terselenggara di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. (pit/adt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK