Mark Zuckerberg 'Buntung' Rp44 T Usai Ubah Linimasa Facebook

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Minggu, 14/01/2018 14:22 WIB
Mark Zuckerberg 'Buntung' Rp44 T Usai Ubah Linimasa Facebook Mark Zuckerberg menderita kerugian US$3,3 miliar atau Rp44 triliun setelah saham Facebook melorot menjadi US$74 miliar usai mengubah linimasa. (REUTERS/Robert Galbraith).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kekayaan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, melorot tajam setelah melakukan beberapa perubahan di linimasa (news feed) Facebook. Zuckerberg kehilangan US$3,3 miliar atawa setara dengan Rp44 triliun.

Kehilangan disumbang dari saham Facebook yang anjlok sebesar 4,5 persen pada penutupan pasar modal di New York, Jumat (12/1). Menurut Bloomberg Billionaires Index, rontoknya nilai saham Facebook membuat kapitalitasi pasar Zuckerberg yang awalnya bernilai US$77,8 miliar menciut menjadi US$74 miliar.

Hal ini membuat Zuckerberg turun peringkat dalam daftar orang terkaya di dunia. Zuckerberg yang sebelumnya berada di posisi keempat, kini turun satu peringkat ke posisi lima. Adapun, posisi Zuckerberg disalip pengusaha ritel Spanyol, Amancio Ortega.


"Ada terlalu banyak ketidakpastian yang berkaitan dengan dampak ekonomi dari perubahan news feed Facebook," kata Analis Stifel Financial Scott Devitt menanggapi perubahan linimasa dan penurunan saham Facebook.

Perubahan algoritma linimasa Facebook ini membuat tampilan beranda Facebook yang kerap menampilkan konten dari media dan viral akan berubah. Konten itu akan lebih banyak menampilkan berita dari keluarga dan orang-orang terdekat pengguna Facebook.

Perubahan ini menuai kritik lantaran dianggap dapat memprioritaskan berita yang salah dari unggahan orang-orang.

Namun, Zuckerberg berdalih perubahan ini dilakukan agar pengguna dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin di Facebook dan tak perlu berlama-lama.

"Saya berharap waktu yang dihabiskan orang-orang di Facebook akan turun, namun saya juga berekspektasi waktu yang Anda pakai saat mengakses aplikasi ini menjadi lebih berharga," terang Mark.

Diberitakan Telegraph, Facebook mengakui bahwa algoritma yang baru ini akan merugikan konten non-iklan dari kreator atau label, seperti berita atau unggahan viral. Di sisi lain, Facebook memastikan tidak mengubah ketentuan untuk pengiklan yang membayar di Facebook. (bir)