LAPORAN DARI KUALA LUMPUR

Aplikasi Dokter Tania,Tawarkan 'Dokter Pribadi' untuk Tanaman

Eka Santhika, CNN Indonesia | Jumat, 06/04/2018 07:18 WIB
Finalis Imagine Cup 2018 asal Indonesia Tim Taleus mengibaratkan solusi pertanian mereka sebagai dokter pribadi bagi para penggiat industri agrikultural. Tim Taleus memperkenalkan aplikasi dan sistem IoT Dr Tania untuk mendeteksi tanaman (CNN Indonesia/Eka Santhika Parwitasari)
Kuala Lumpur, CNN Indonesia -- Salah satu tim yang mewakili Indonesia dalam ajang Imagine Cup Asia Pasifik 2018 yakni Tim Taleus mengibaratkan solusi pertanian mereka sebagai dokter pribadi bagi para penggiat industri agrikultural.

"Kami memperkenalkan Dokter Tania, pendamping kesehatan pribadi tanaman Anda," jelas Febi Agil Ifdillah, anggota dari Tim Taleus di panggung final Imagine Cup Asia Pasifik 2018, di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (4/4).

Sebagai dokter pribadi, dr Tania dikembangkan untuk bisa mengenali jenis penyakit yang menyerang tanaman pengguna. Tania juga akan memberi penjelasan terkait penyakit tersebut dan solusi produk yang bisa dipakai untuk menanggulanginya.


"Sebenarnya kami terinspirasi dari konsep precision agriculture," terang Febi saat ditemui usai presentasi mereka.
"Seperti Beehives juga, pakai drone dan segala macam. Tapi, akhirnya kami mencoba dari yang realistis dulu aja," tambahnya lagi.

Dalam presentasinya, Taleus mendemonstrasikan kemampuan Tania untuk mendeteksi penyakit tanaman dari foto.

Sebagai aplikasi pendeteksi penyakit tanaman, Febi menerangkan bahwa banyak pihak yang menyarankan agar aplikasi ini tak hanya ditujukan bagi petani. Tapi juga bisa digunakan oleh penghobi tanaman.

"Mungkin kedepannya kami akan memikirkan untuk ke arah situ jika solusi untuk petani ini sudah mapan. Sebab, seperti ibu-ibu penggemar tanaman itu cukup militan juga (untuk urusan kesehatan tanaman)," terang Febi lagi.
Deteksi Tanah

Namun rencananya, Tania tak hanya digunakan untuk mendeteksi penyakit tanaman. Tapi juga akan dibuat untuk manajemen penyakit pada tanaman hingga mengecek kondisi lingkungan pertanian dengan IoT (internet of things, menggunakan sensor dan dihubungkan dengan internet).

Mereka lantas mendemonstrasikan perangkat IoT yang digunakan untuk mendeteksi kondisi tanah. Dalam demonstrasinya mereka menancapkan kotak yang didalamnya berisi sensor kelembaban dan keasaman tanah.

Sensor ini lantas terhubung ke internet. Sehingga, pengguna bisa langsung mengetahui kondisi tanaman menggunakan aplikasi di ponsel mereka. Saat dicoba, tanaman cabai yang mereka bawa menunjukkan tingkat kelembaban yang hanya 30 persen.

"Maaf ini belum sempat disiram, baru dibeli kemarin," ujar Ahmad Farhan Ghifari, anggota tim Taleus lainnya sembari terkekeh yang disambut riuh tawa penonton yang hadir.
Ke depannya, Taleus berencana untuk menambahkan panel surya pada perangkat IoT mereka tersebut. Sehingga perangkat ini bisa mengisi daya dengan sendirinya.

Hanya saja, saat ditanyai juri, tim Taleus mengaku bahwa akurasi deteksi penyakit tanaman mereka ini masih berada dalam kisaran 46 persen.

Angka itu bisa meningkat jika sistem machine learning mereka terus diberi data agar makin cerdas dan akurat dalam memberikan diagnosa.

Mereka juga menyebut akan menambah data valid dari para ahli. Saat ini data penyakit yang sudah dikumpulkan Taleus baru terkumpul 38 penyakit dari 14 komoditas.
Serupa dengan Beehive, inisiatif Taleus untuk memberikan solusi pertanian didorong oleh keprihatinan adanya ancaman pasokan makanan global di masa mendatang. Ancaman ini datang karena adanya perubahan iklim, hingga makin berkurangnya sumber daya alam.

Wild Card

Aplikasi Dokter Tania,Tawarkan 'Dokter Pribadi' untuk TanamanTim Taleus yang memperkenalkan inovasi Dr. Tania (CNN Indonesia/Eka Santhika Parwitasari)


Tim Taleus sendiri sebenarnya adalah runner-up dari kejuaraan Imagine Cup 2018 tingkat nasional. Namun, mereka mendapat Wild Card sehingga bisa ikut tampil di babak final Imagine Cup tingkat Asia Pasifik.

Selain tim Taleus dari Indonesia, ada tiga tim lain yang mendapat Wild Card dari Microsoft buat maju ke final Asia Pasifik. Tim yang mendapat Wild Card ini bisa dibilang beruntung.

Pasalnya, babak final ini sejatinya hanya diperuntukkan untuk para pemenang tingkat nasional saja.
Perintis tim Taleus adalah empat orang mahasiswa ITB dan seorang mahasiswa pertanian, Febi Agil Ifdillah, Naufalino Fadel H, Pebriani Artha, dan Lintang Kusuma P. Namun diatas panggung, tim ini membawa dua orang lainnya, Harry Alvin Waidan Kefas dan Ahmad Farhan Ghifari.

Mereka berkompetisi dengan 15 tim dari 9 negara lain di ajang final Imagine Cup 2018 Asia Pasifik yang digelar Microsoft di Kuala Lumpur, Malaysia.

Imagine Cup sendiri adalah kompetisi tahunan yang telah digelar Microsoft sejak 2003. Pemenang kawasan Asia Pasifik ini nantinya akan diboyong ke Seattle, Amerika Serioat untuk bertanding di tingkat dunia.

Dalam kompetisi ini, Indonesia diwakili oleh Beehive Drone dan Taleus. Keduanya menawarkan solusi teknologi untuk sektor agrikultural. (age/age)
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK